Jumat, 21 November 2014

Hore Saya (Pura-puranya) Diwisuda...


Momen paling berkesan bagi seorang yang sekolah adalah kalo sudah diwisuda, benar? Tapi bagi saya tidak. Mengapa? Karena saya cuman diwisuda pura-pura aja!

Begini maksudnya: kan di Curtin itu banyak mahasiswa asingnya baik S2 maupun S3. Nah, kalo untuk mahasiswa S2, berakhirnya semester berarti mereka udah beneran lulus, dan berhak mendapatkan ijasah. Nah, buat mahasiswa S3, berakhirnya semester berarti ya tidak berarti apa-apa, karena sekolah dinyatakan berakhir apabila telah submit tesis. Nah, tiap akhir semester, pihak International Office di Curtin menyelenggarakan wisuda bagi international student-nya. Ini bukanlah wisuda resmi dengan segala rektor dsb yang hadir, melainkan untuk melepas mahasiswa internasional yang mau pulang karena selesai S2 dan waktunya sebelum ada wisuda tingkat universitas yang besar acaranya tapi dilakukan kira-kira tiga bulan setelah semester berakhir. Nah kan gak mungkin mahasiswa internasional ini nunggu 3 bulan di Perth untuk nunggu wisuda (bisa bangkrut dia) atau pulang dulu terus nanti balik lagi untuk diwisuda tiga bulan kemudian (kan boros!). Nah untuk itulah diadakan acara khusus oleh Curtin untuk mewisuda S2 ini.

Lha yang S3 kenapa ikut diwisuda? Ingat, murid S3 akan pulang setelah submit tesis. Nah, tiap orang kan pulangnya berbeda-beda karena submitnya kan beda-beda tanggal. Untuk itulah buat mahasiswa S3 yang kira-kira selesai semester ini, diikutkan juga untuk ‘wisuda’ alias pura-pura sekaligus perpisahan buat mereka (termasuk saya ini). Tapi pura-puranya ini beneran lho, pake toga segala, untuk S3 pake toga ungu biar terkesan angker dan sekaligus bijaksana! Untuk itulah pada pertengahan Juli ini kami sekeluarga balik lagi ke Perth (ingat, keluarga sudah saya pulangkan Mei sebelumnya). Ini di tengah-tengah bulan puasa lho! Mana musim dingin lagi! Tapi demi sebuah foto wisuda, maka kamipun meluncur ke lokasi dengan pakaian formal jas buat saya sama Aby, sama kebaya buat nyonya. Uhuy! Bayangin winter pakai kebaya.

Upacara diadakan di stadion Curtin yang megah itu. Keluarga para wisudawan juga pada dateng (keluarga saya gak ada yg dateng—kecuali anak dan istri, kan berat di ongkos). Kira-kira yang diwisuda adalah 30 orang terdiri dari 8 ‘wisudawan’ S3 dan sekitar 20an S2 (beneran). Tidak pakai gladi resik segala, kami dipanggil satu-satu masuk panggung. Setelah duduk, lalu dipanggil satu-satu untuk menerima ‘ijasah’ (padahal isinya cuman ucapan selamat berpisah), dengan disebutkan nama, asal negara, judul tesis, sama nama profesor pembimbingnya (Pak Prof khusus saya undang walaupun dia sudah pengangguran!). Tidak lupa pula difoto waktu penyerahan ‘ijasah palsu’ itu dan disalamin entah siapa (yang pasti bukan rektor), sambil senyum lebar seolah-olah sekolah selesai. Padahal submit aja belum!

Habis acara, foto-foto dengan bahagia (enggak bener-bener bahagia, karena belum lulus), foto bersama Pak Prof, sama yang lain-lain, sambil nyengir sana sini. Terus juga foto-foto di berbagai macam lokasi kampus berpindah-pindah, sampai haus banget (kan puasa!).  Maklum baju toga pinjaman harus dibalikin paling lambat jam 14 hari itu juga! Tidak lupa istri saya majang-majang foto ‘wisuda’ tadi di media sosial: facebook, path, instagram dsb., biar dikira lulus! Terpaksa saya terima kasih aja diucapin selamat sama temen-temen.

Walaupun pura-pura wisuda, tapi ternyata lumayan lho foto-foto dengan toga yang serem itu. Rasanya kayak udah lulus beneran!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar