Selasa, 25 November 2014

Balik Beneran ke Indonesia


Akhirnya selesai sudah empat tahun saya di Australia. Pas tanggal 1 Agustus 2014, saya balik lagi. Saya sendiri kadang bertanya-tanya kok ya submitnya pas di hari terakhir beasiswa (yang lewat sehari aja langsung kena denda), kok kayak gak ada hari lain aja. Sebenarnya saya maunya submit sebelumnya tapi apa boleh buat karena harus lebaran di rumah (maklumlah udah empat kali saya berlebaran di Perth yang percayalah rasanya gak enak), situasinya jadi ribet kayak gitu.

Lalu gimana rasanya balik? Yang pasti hampir semua orang yang saya kenal, menyangkanya saya udah lulus, alias sudah menjadi PhD. Kenyataannya saya masih harus nunggu lagi penilaian dari dua orang examiner yang bisa memakan waktu minimal enam minggu sampai dengan setengah tahun, begitu kata website Curtin. Nanti examiner akan menilai apakah tesis saya lulus dengan tanpa revisi (biasanya disebut lulus dengan nilai A di sini), lulus dengan sedikit revisi (nilai B1), lulus dengan banyak revisi (nilai B2), tesis harus disusun ulang (nilai C), atau malah gak lulus (nilai D). Amit-amit dah! Berhubung orang-orang yang ketemu saya selalu ngucapin ‘wah , selamat ya udah jadi Doktor!’, saya ya bilang terima kasih aja, soalnya rada susah kalo mau jelasin ke semua orang itu bahwa kira-kira nanti setengah tahun lagi baru saya jadi PhD beneran!

Yang paling ‘lucu’ adalah kejadian kemarin dulu waktu ada acara akad nikah salah seorang saudara saya. Saya kebetulan ditunjuk sebagai wakil dari pihak mempelai laki-laki untuk memberikan sambutan pengantar dalam acara akad nikah (rupanya salah satu tugas dari seorang PhD adalah memberi sambutan kalo ada acara keluarga!). Saya sama nyonya berdiri di paling depan, di depan calon pengantin beserta para pengiringnya di belakang. Sesuah siap, MC acara pun berkata ‘marilah kita ikuti sambutan dari keluarga calon mempelai pria, Bapak Budi Susila, Ak., MA, PhD’. Waduh, baru sekali itulah nama saya disebut lengkap beserta gelar-gelar akademis saya, bahkan termasuk ‘PhD’ yang belum resmi saya sandang itu! Entah siapa yang memberikan informasi gelar lengkap saya itu. Mungkin juga dirancang begitu supaya terlihat mentereng dan supaya ‘gak kalah’ sama pihak calon besan, kan gak setiap keluarga ada PhDnya! (Halah!). Tentu saja saya rada tersenyum mendengar pengantar dari MC tersebut, dan lalu saya memberikan sambutan dengan gaya yang sok berwibawa, yang kira-kira pantas keluar dari seorang Doktor beneran. Untunglah kayaknya semuanya cukup puas dengan PhD gadungan ini!

Sementara menunggu hasil dewan penguji tesis, saya pun juga harus balik ke kantor saya di Kementerian Keuangan (kan saya ikatan dinas!). Kembali semua orang yang ketemu menyelamati saya, saya saya mah terima kasih aja. Sekali lagi, menjelaskan bahwa saya belum PhD beneran rada sulit, sehingga ya saya iya-iya aja (sambil sedikit meninggikan mutu!).

Waktu dulu sebelum pulang, pihak International Office Curtin pernah ngadain seminar tentang ‘going home’ bagi calon mahasiswa yang udah mau pulang selamanya. Salah satu yang diwanti-wanti mereka adalah adanya reverse culture shock, yakni kejutan budaya di tanah air setelah sekian lama ditinggalkan. Apakah saya mengalami hal itu? Kayaknya sih gak juga, soalnya Indonesia terutama Jakarta ya gitu-gitu aja, tidak membuat terkejut dan bingung. Jalanan lebih macet itu sudah pasti, orang-orang gak mau antre ya saya sudah maklum dan gak perlu ngomel-ngomel. Sepeda motor melanggar lampu merah? Tidak aneh lagi. Nyari parkir di mal sulit? Cerita lama! Cuman cuaca panasnya yang gak nahan, tapi itupun dua minggu udah biasa lagi.

Yang culture shock justru menyenangkan, yaitu harga makanan lezat nan murah banget! Kalo biasanya mie ayam di Bintang Cafe harganya $8.5 maka di Bakmi GM cuma Rp22 ribu alias gak ada tiga dolar. Lontong sayur yang enak banget deket rumah cuma Rp11 ribu, cuman satu dolar kira-kira! Gado-gado enak deket lapangan tenis tempat saya main cuma 14rb! Cuman sayangnya ada satu yang mengganjal: penghasilan saya sekarang dalam rupiah. Jadi ya impas lah!

Kayaknya yang paling senang kami pulang,ya anak saya si Aby. Dia bisa ketemu saudara-saudara yang kecil-kecil (maklum dia anak tunggal), terus bisa nginep di tempat mereka. Dia juga masuk SMP (swasta Islam) yang besar banget yang dia cita-citakan (entah kenapa dia ingin ke sekolah itu juga saya gak tau) dan ketemu teman-teman baru. Walaupun saya yakin dia agak kesulitan pakai bahasa Indonesia di sekolah (sekolahnya pakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar), karena sampai sekarang saya sekeluarga pakai bahasa Inggris di rumah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar