Selasa, 22 Juni 2010

Ini Sambungannya....

# 2 Catatan Singkat: Cara Mendapatkan Beasiswa Kuliah ke Australia
By Melati Anggara

STRATEGI SEBELUM MENDAFTAR BEASISWA

(lanjutan # 1 dan # 2)

# 3 Targetkan Beasiswa yang Paling Realistis Dicapai

Setelah mempertimbangkan semua karakter beasiswa yang ditawarkan, coba ukur kemampuan diri sendiri dan bandingkan dengan persyaratan yang diminta dari para pemberi beasiswa. Apakah kemampuan bahasa kita sudah mencukupi standar minimum yang diminta? Apakah peminatan kita termasuk salah satu isu utama yang menjadi target para pemberi beasiswa? Apakah pengalaman kerja kita sudah sesuai dengan harapan? Seberapa banyak waktu, materi, dan tenaga yang mampu kita investasikan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut?

Selain itu, pertimbangkan juga kondisi pribadi kita (keluarga dan pekerjaan) dan sejauh mana beasiswa yang ditawarkan mampu mengakomodasi kebutuhan kita. Tentunya seorang pencari beasiswa yang sudah menikah dan memiliki anak akan cenderung mencari beasiswa yang bisa menjamin kebutuhan hidup keluarganya selama belajar di luar negeri—sayangnya tidak semua beasiswa seideal itu, dan mungkin lebih cocok bagi pencari beasiswa yang masih lajang atau tidak berniat membawa keluarganya ikut serta.

Para pencari beasiswa yang sudah terikat kontrak di instansi kerjanya juga harus mempertimbangkan keberlangsungan karirnya seusai kuliah—apakah kantornya mengizinkan karyawannya cuti kerja selama kurang lebih 2 tahun untuk menyelesaikan kuliah, atau haruskah mengundurkan diri dari pekerjaannya? Coba pertimbangkan untung rugi dari tiap skenario yang ada, dan pilihlah yang paling realistis sesuai kondisi kita.

# 4 Tingkatkan Kemampuan Berbahasa

Cek persyaratan kemampuan berbahasa inggris yang diminta oleh pemberi beasiswa, kemudian ukur kemampuan bahasa kita dengan mengikuti TOEFL atau IELTS prediction test di lembaga-lembaga bahasa inggris seperti Lembaga Bahasa Internasional (LBI) UI atau International Language Program (ILP). Nilai minimum kemampuan berbahasa yang diterima untuk aplikasi beasiswa ADS adalah 5.0 untuk IELTS, 500 untuk paper based / Institutional TOEFL, dan 39 untuk TOEFL IBT.

Terkait dengan jenis tes TOEFL, terdapat paper based TOEFL dan internet based TOEFL (IBT)—namun kebanyakan universitas hanya menerima TOEFL IBT karena tes ini menguji kemampuan holistik kita dalam menulis, mendengar, membaca, dan berbicara. TOEFL IBT hampir sama dengan tes IELTS karena sama-sama menguji keempat kemampuan dasar tersebut, namun dalam IELTS kemampuan bicara kita dites melalui wawancara dengan seorang penguji, sedangkan di TOEFL IBT jawaban verbal kita direkam oleh komputer.

Selain LBI UI dan ILP, terdapat berbagai tempat kursus untuk meningkatkan nilai TOEFL dan IELTS kita, diantaranya Indonesia Australia Language Foundation (IALF) dan ETS.org. Biaya untuk kursus persiapan tes TOEFL dan IELTS antara lain adalah sebagai berikut: Rp1.300.000 (kursus TOEFL IBT 56 jam melalui LBI UI), Rp950.000 (kursus IELTS 56 jam melalui LBI UI), Rp3.450.000 (kursus IELTS 50 jam melalui IALF), dan US$ 44.95 (TOEFL Practice Online melalui ETS.org).

Kalau merasa sudah siap menghadapi tes yang sesungguhnya, daftarkan diri untuk tes TOEFL IBT melalui ETS.org (US$ 150) atau tes IELTS melalui IALF (US$ 180). Kedua lembaga tersebut merupakan satu-satunya di Indonesia yang diakui hasil tesnya di tingkat internasional, sedangkan untuk tes tingkatan institusional bisa dilakukan melalui ILP (Rp250.000an). Hasil tes tersebut, beserta sertifikat nilainya berlaku selama dua tahun setelah hasil tes diumumkan.

Catatan penting: TOEFL prediction score tidak akan diterima untuk aplikasi beasiswa. Institutional TOEFL bisa dipergunakan untuk melamar beasiswa, namun biasanya pihak universitas di luar negeri tidak akan menerima hasil tes institusional, sehingga pada akhirnya kita tetap diharapkan untuk mengambil tes TOEFL internasional. Oleh karena itu, lebih aman apabila pelamar mengikuti tes TOEFL internasional sejak awal.

# 5 Penuhi Persyaratan Administratif Beasiswa

Untuk beasiswa Australian Development Scholarships (ADS), syarat minimum IPK adalah 2,9 dan usia maksimal ketika mengirimkan aplikasi beasiswa adalah 42 tahun.

Dokumen-dokumen yang harus disertakan bersama formulir aplikasi pendaftaran adalah fotokopi akte kelahiran, fotokopi KTP atau paspor, CV dalam bahasa inggris, fotokopi ijazah S1 dan fotokopi transkrip nilai S1 yang telah dilegalisir, fotokopi hasil IELTS/TOEFL, surat referensi dari pembimbing skripsi, dan proposal penelitian (bagi pelamar yang berniat melakukan riset dengan bobot lebih dari 50% dari total masa studi). Merupakan nilai tambah apabila kita bisa menyertakan bukti komunikasi (surat menyurat atau email) antara kita dan pihak universitas yang dituju, khususnya apabila kita sudah mendapatkan calon pembimbing tesis.

Ada baiknya dokumen-dokumen tersebut sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, khususnya dokumen yang harus dilegalisir seperti ijazah dan transkrip nilai, karena biasanya proses tersebut memakan waktu yang cukup lama dari pihak universitas. Sebaiknya ijazah, transkrip nilai, dan akte kelahiran segera diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan dilegalisir kembali, baik melalui pihak universitas maupun penerjemah tersumpah, karena apabila pelamar beasiswa maju ke tahap wawancara akhir, dokumen-dokumen terjemahan tersebut akan diminta untuk diserahkan.

# 6 Tambah Pengalaman Kerja, Berorganisasi & Aktivitas Terkait

Seringkali program-program beasiswa menyaratkan para pelamar untuk memiliki pengalaman kerja di bidangnya dalam jangka waktu tertentu. Kenyataannya ada juga kandidat-kandidat yang sukses mendapatkan beasiswa walaupun tidak memiliki pengalaman kerja minimum yang diminta. Ada pula kandidat yang memiliki pengalaman kerja selama bertahun-tahun namun tidak berhasil lolos tahap seleksi beasiswa. Mengapa bisa demikian?

Pada dasarnya, para pemberi beasiswa akan melihat seberapa besar potensi seseorang kandidat untuk berkembang dan menggunakan ilmu yang didapatnya semasa kuliah dan kemudian mengaplikasikannya dalam pekerjaannya sehingga akan berdampak positif bagi pembangunan di negara asalnya.

Potensi seseorang biasanya diukur dari banyaknya pengalaman kerja, konsistensi dalam fokus bidang tertentu, keaktifan berorganisasi semasa mahasiswa maupun sesudah lulus kuliah, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sukarelawan, produktivitas publikasi tulisan dalam surat kabar, jurnal, ataupun buku, serta antusiasme dan kecerdasan dalam berdiskusi dan menjawab pertanyaan pewawancara ketika seleksi tahap akhir beasiswa.

Ketika melamar untuk bidang studi tertentu, sebaiknya sebagian besar rekam jejak karir, studi, dan aktivitas kita berkaitan dan mendukung isu yang akan kita ambil nanti. Kalau sudah menetapkan minat kita pada satu isu tertentu, usahakan agar pekerjaan dan aktivitas kita terkait dengan bidang studi yang ingin diambil. Kalau perlu pertimbangkanlah untuk mencari kantor atau jenis pekerjaan yang tepat, yang merupakan salah satu instansi atau isu prioritas pembangunan yang ditargetkan oleh pemberi beasiswa.
Bergabunglah dengan organisasi, kelompok diskusi, lembaga penelitian, komunitas sukarelawan, atau bentuk-bentuk kegiatan lainnya yang terkait dengan minat utama kita.

Dengan pengalaman dan jaringan yang luas dalam fokus bidang tertentu, CV kita akan terlihat berbobot di mata para tim penilai beasiswa, dan kemungkinan besar jawaban-jawaban kita pada saat wawancara tahap akhir beasiswa pun akan terdengar lebih meyakinkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar