Senin, 21 April 2014

Kisah Sebuah Topi

Sejak saya mendarat di Australia, saya penasaran sekali pingin punya topi khas orang sini, yaitu yang mirip topi koboi. Itu lho yang dipakai di film Crocodile Dundee. Kayak gini nih penampakannya:


Tapi tentu saja minus gigi buaya di pinggirnya, emangnya saya cowok apaan?

Cari punya cari di internet, rupanya terdapat beberapa macam jenis dan harganya. Yang paling top adalah jenis/merk Akubra, yang kayak gini nih:


Tapi saking kerennya harganya mahal banget, sekitar $120. Masak mahasiswa kere macam saya beli topi seharga di atas satu juta perak? Gak mungkin lah!

Akhirnya saya cari yang KW-nya, tapi tentu saja yang terbuat dari kulit asli. Rupanya merk kelas duanya banyak, misalnya merk Barmah atau Jacaru. Nah ini rada mendingan nih, harganya di bawah $75.

Langsung saya cari-cari sekitar Perth sini ,berapa harganya. Mau beli lewat internet kan gak mungkin, gimana ngepasin size-nya? Saya selidiki pelan-pelan di sekitar City. Wah, rupanya masih mahal-mahal, sekitar $60-$70, paling murah $59! Masih di luar jangkauan saya nih!

Akhirnya waktu ke Melbourne tahun lalu, sampailah saya di Queen Victoria Market, itu lho pasar tempat jualan suvenir paling top sak Melbourne. Eh, dasar rejeki, saya dapet topi ini, merknya Barmah:



Harganya, lumayan, kalo di internet $59, di Melbourne saya beli cuman $39. Jadi deh saya orang Australia!

Eh, tapi waktu saya ke Sydney kemarin, saya pergi ke Paddy's Market (ini juga tempat belanja oleh-oleh paling top sak Sydney), saya ketemu topi serupa:



Ini merknya sama-sama Barmah, tapi harganya $29! Terpakasa saya beli lagi satu, biar saya dobel jadi orang Australia!

Jadi begitulah saudara-saudara! Moral of the story: kalo mau beli topi Australi, belilah di Sydney, khususnya di Paddy's Market! Hehehe...

Jumat, 21 Maret 2014

Yang Saya Gak Ngerti: Tiba-tiba Profesor Saya Dipecat!

Ada kejadian aneh tapi nyata: profesor pembimbing saya tiba-tiba dipecat!

Begini ceritanya: awal februari kemarin si prof ngemail saya dan para anak didiknya bahwa ada kemungkinan para professor di CBS (Curtin Business School) akan dipensiun dini. Alasannya: adanya kekurangan dana dari pemerintah, adanya fakultas baru yang dibentuk, yaitu Medical School di Curtin yang baru mau dibuka, plus lha ini yang saya gak ngerti: paper yang terbit di School of Economics and Finance tempat saya bernaung (halah kayak hujan,bernaung), selama ini banyak yang terbitnya di jurnal perpajakan (kayak jurnal saya itu tuh). Nah, konon maunya CBS ya namanya school of economics mbok yao nerbitin yang bukan applied finance gitu, mbok yang masalah ekonometri dsb gitu lho yang banyak rumusnya!

Alasan pertama dan kedua sih kayaknya ok (walaupun sebenarnya gak oke juga, masak ada fakultas baru buka terus fakultas yang lama terus disunat, kok kayak perusahaan swasta aja), tapi alasan yang ketiga ini yang rada gak masuk akal! Lha gimana masuk akal coba: jurnal yang ditulis para PhD students di sini kan sesuai dengan keahliannya (misalnya pajak), dan juga dibimbing oleh prof yang sesuai juga jurusannya (misalnya prof saya jagoan pajak), lha terus masak ujug-ujug disuruh nulis di jurnal ekonometri, ya terang aja gak bisa, kan beda binatangnya! (Anda ngerti kan maksudnya? Jangan-jangan bingung!).

Lagian, selama ini jurnalnya juga jurnal bukan ecek-ecek, melainkan jurnal kelas A (banyak, termasuk punya saya dua biji, ehm!), dan sebagian sesial-sialnya ya kelas B! Lha kok mendadak dinilai tidak sesuai? Lha selama ini ngapain aja, kita datang kesitu kan karena si prof ada di situ? Lagian pajak kan termasuk finance juga, minimal public finance lah!

Ya begitulah, si prof udah ngomel-ngomel aja gak jelas.

Eh, ternyata benar, seminggu sebelum Februari berakhir, keluar vonis bahwa memang prof saya diberhentikan. Ya bener, diberhentikan begitu saja terhitung akhir Februari. Cuman dikasih waktu seminggu coba. Sebenarnya prof saya ditawari gak usah berhenti tapi jam ngajarnya ditambah, dan sekarang gak ada asisten lagi. Jadi maksudnya dia tambah ngajar, terus tambah bikin soal dan koreksi (kan gak ada asisten), terus menilai paper. Lha kapan nulis jurnalnya? Kan prof tugasnya nulis bukan ngajar? Tentu saja si prof menolak, tak usah ya.. Akhirnya dia mendadak pension. Ketika saya tanya waktu perpisahan: Prof, terus njenengan ngapain sesudah ini? Dia bilang ya di rumah aja, paling nganter anak sekolah!

Nah lho, bayangin, dia yang biasanya sibuk tiap hari ke kantor, terus ketemu murid bimbingan, terus ngecek disertasi kita, tau-tau besoknya nganggur coba, gimana rasanya?

Terus, yang lebih penting lagi, nasib saya gimana? Yang pasti secara ekonomi saya dirugian karena saya juga dipecat sebagai research assistant yang sudah saya jalani lebih dari setahun ini, padahal gajinya ok punya! Secara akademis, lebih dirugikan lagi, kan saya harus ganti dosen pembimbing, lha terus kalo prof yang baru banyak maunya kan repot, padahal saya udah ok banget sama prof lama saya dan juga udah beberapa bab yang sudah saya setor ke dia.

Gawat nih!

Selasa, 18 Februari 2014

Jalan-jalan Australia: Nginep di Mana Ya?

Setelah Anda menentukan DTW, tentunya langkah berikut adalah mencari tempat nginep. Banyak alternatifnya: nginep di rumah temen, nginep di rumah kosong, hotel di pusat kota (CBD), hotel di pinggir kota, atau hotl backpacker.

Nginep di rumah temen jelas paling enak, karena biasanya gratis. Tentunya ini temen harus sudah kenal lama dan hubungan baik-baik aja, jadi istilahnya jalan-jalan sambil ketemu teman lama. Tapi harus Anda ingat lho ya, temen yang Anda inepi ini tinggal di LN sekarang, jadi pastinya tidak ada pembantu di sana, jadi Anda harus tau diri untuk mencuci piring abis makan (kecuali dilarang sama tuan rumahnya), terus karena Anda pakai listrik dan air mereka, bolehlah Anda kasih ucapan terima kasih dengan memberikan sedikit oleh-oleh buat anak mereka (kaos misalnya), atau abis jalan-jalan Anda belikan seloyang dua loyang Pizza Hut. Dan juga mereka punya jadwal sendiri (entah kerja entah sekolah), jadi sebaiknya Anda tidak menunggu dianter-anter. Cari sendiri rute angkutan umum atau jalanan (kalo Anda sewa mobil). Anda tau sendiri lah unggah-ungguhnya.

Ada cerita tidak mengenakkan: suatu hari ada seorang temen di Australi sini (suami istri) dikirim email oleh temennya (seorang wanita) di Indonesia, mengabarkan bahwa suaminya sedang ada urusan bisnis di kota tempat tinggal keluarga itu. Pesannya kira-kira begini 'eh, suamiku sekarang lagi ada di kotamu lho, mbok kalian ketemu, dia nginep di Hotel X, kalo bisa tolong dong dimasakin makanan Indonesia, kasihan dia pingin'. Nah lho, gimana coba reaksi si keluarga ini? Ya betul, 'emangnya saya kurang kerjaan apa jemput-jemput ke hotel, terus masakin makanan Indonesia?' (tentu saja reaksi dalam hati). Kecuali Anda memang deket banget dengan si temen, sebaiknya jangan begitu, ini sudah di LN, siapa tau si temen sibuk sekolah terus parttime kerja di luar juga. Suruh masakin ala Indonesia segala? Di mana-mana banyak restoran Indonesia, silakan aja cari sendiri alamatnya di internet dan ke sana pakai angkutan umum kalo perlu. Kalo saya mau ketemu sama temen yang ada di suatu kota, medingan saya ketemu di tempat umum, kafe misalnya, jadi tidak ngerepotin. Itu kalo saya lho ya?

Kok malah jadi ngelantur. Selanjutnya: nginep di rumah kosong. Ini maksudnya bukan nginep di rumah hantu, melainkan nginep di rumah orang Indo yang kebetulan sedang pulang kampung. Biasanya di milis-milis student, kalo si pelajar pulang ke Indo buat riset atau ambil data, maka dipasanglah iklan di milis, siapa tau ada orang yang niat tinggal selama seminggu dua minggu, dengan bayar sekitar $100-200 seminggu, lumayan bisa nutup biaya listrik dan air (juga sebagian biaya sewa). Biasanya rumah begini deket dengan kampus-kampus, tapi mungkin jauh dari pusat kota (CBD) karena dekat CBD tentu sewa rumah mahal. Kalo kebetulan Anda ketemu yang begini, bisa murah karena maksimal biaya cuma $200 seminggu full, tapi ya gak kayak hotel yang pasti lebih bagus dan bersih. Anda harus tau diri untuk menjaga kerapihan. Ini alternative yang bagus buat ngirit, tapi Anda harus sangat beruntung karena harus pas antara jadwal liburan Anda dengan keberadaan kamar kosong. Karena rada ribet, maka saya belum pernah menggunakan cara ini.

Yang membawa kita ke alternative berikut: sewa hotel. Ada tiga macam: hotel di tengah kota (rada mahal), pinggir kota (rada murah), dan backpacker (murah). Dalam pengertian hotel ini adalah apartemen karena selain hotel ada juga serviced apartemen buat keluarga yang mau tinggal jangka pendek dan ada fasilitas dapur, mesin cuci dsb. Enaknya tinggak di deket CBD: biasanya di situ ada stasiun kereta/bis yang besar dengan jurusan kemana-mana dan buka sampai larut malam. Mau makan jenis makanan apa saja ada, tinggal cari di ponsel, biasanya bias dicapai dengan jalan kaki. Mau belanja deket mal-mal besar. Kekurangannya: sudah pasti lebih mahal dari hotel yang rada jauh. Tidak ada tempat parkir buat mobil kalo Anda nyewa mobil (atau kalo ada tarifnya mahal, bisa $50 sehari). Nah, hotel yang rada jauh dari CBD keunggulannya: tarifnya sedikit lebih murah (sekitar $40-50 lebih murah semalem dari hotel yang di CBD), kemungkinan ada tempat parkir buat mobil (gak semuanya lho ya). Kekurangannya yaitu angkutan umum jurusannya gak banyak dari daerah situ, terus mau cari makan dan belanja juga rada susah. Nah bagaimana dengan hotel backpack? Ini yang paling murah karena biayanya dihitung per kepala, bisa cuman sekitar $20-30 semalem/orang. Letaknya juga di CBD biasanya tapi di 'gang-gang sempit'. Biasanya suasananya berisik dan banyak orang (termasuk penghuninya) suka minum-minum. Kalo Anda petualang bisa dicoba, tapi saya sendiri belum pernah, karena saya ada keluarga dan satu anak kecil, jadinya hotel model gini gak cocok, karena bisa aja kita sekamar dengan orang yang gak kenal, hi... (satu kamar bisa dihuni sampai 8 orang lho). Oya satu info lagi, banyak hotel (bukan yang backpack) yang kamarnya bisa untuk sekeluarga lho, bahkan dengan tempat tidur tingkat segala. Jadi bisa sekamar bapak+ibu+dua anak yang gede. Contohnya Formule Hotel.

Kalo saya sendiri? Saya cenderung pakai hotel yang di CBD selama ini, baik di Melbourne (Travelodge Hotel, tinggal nyebrang udah Flinders Station), Sydney (Ibis, tengah kota, deket Central station), Gold Coast (WaterMark, jalan kaki 400m ke pantai paling top Surfers Paradise), Brisbane (Rydges, sepelemparan batu dari CBD tinggal nyebrang aja), Millenium (Auckland, jalan kaki 200m sampai CBD),  dan yang bintang tiga karena tidak terlalu jelek dan tidak terlalu mahal. Tarifnya berkisar $100-180 semalem.

Bagaimana cari hotelnya? Gampang, pake aja hotels.com, Agoda, Tripadvisor, atau booking.com. Situs-situs ini bagus kok, saya gak ada masalah sama sekali. Anda juga bisa baca reviewnya tiap hotel di situ. Jangan lupa bandingin harga untuk hotel yang sama, siapa tau ada yang nawarin lebih murah! Cari yang daerahnya Anda inginkan apakah dekat dengan DTW atau stasiun, atau apa aja. Semuanya lengkap.

Minggu, 16 Februari 2014

Jalan-jalan Australia: Apa yang dibawa?

Anda jangan ketawa ya mengetahui bahwa barang bawaan saya yang utama waktu jalan-jalan adalah gayung dan ember? Itu sebenarnya belum seberapa! Apa saja lagi barang ndeso yang saya bawa? Sebelum saya sebut, pertimbangan saya begini: koper waktu berangkat masih agak kosong karena nanti akan diisi kaos oleh-oleh dan souvenir asik lainnya. Terus sebisa mungkin menghemat biaya dan barangnya tidak berat.

Nah, barang apa yang saya bawa? Pertama-tama yang mesti disebut adalah rice cooker. Beneran? Iya saya bawa barang itu.  Pertimbangannya sederhana: makan di luar tiap hari itu gak enak (baca: terutama buat kantong). Misalnya makan siang bertiga habisnya bisa $40-50 di restoran Jepang, maka kalo saya beli lauknya doang (misal ayam panggang Nandos yang enak banget itu), satu ekor ayam cuman $20 bisa makan bertiga, masih bisa buat makan malamnya sekalian. Belum lagi apa sih yang bisa ngalahin lezatnya piknik bawa nasi terus makan ala outdoor? Gak usah malu! Tinggal masukin ransel, sampai tempat tiker digelar, terus makan dengan lahapnya. Gak ada orang kenal ini! Oya, harga rice cooker ini cuman $13, habis jalan-jalan langsung saya tinggal di hotel terakhir biar diambil sama si house keeper yang kebanyakan orang Asia ini. Catatan: tentu saja saya tidak tiap hari bawa nasi ke tempat wisata. Kadang-kadang saya juga nyobain restoran yang ngetop di tiap wilayah, misalnya Restoran Indonesia Delima di Sydney CBD, Pancake on the Rocks di Opera House atau Hurricane Grill di Surfers Paradise di Gold Coast sana! Ngirit boleh tapi enjoy the life ya perlu juga!

Berikutnya: popmie. Itu lho mie yang masaknya di gelas plastic. Saya udah lama tau bahwa tidak seperti di Indonesia yang gratis, sarapan di hotel di Australi sini harganya lumayan. Misalnya di Hotel Ibis Sydney, harganya $18 per orang (lha kalo tiga orang kayak saya berapa coba sehari buat sarapan doang, mending buat beli oleh-oleh!), di Brisbane Hotel Rydges malah $22. Maka dengan popmie tinggal masak air di hotel (semua hotel ada pemasak air buat bikin teh/kopi), masukin deh itu pop mie. Praktis dan murah. Pas pulang koper udah kosong karena popmie udah habis, tinggal diisi sama kaos yang masih bau toko!

Abis itu apa lagi ya? Tentu saja obat gosok Counterpain! Ingat lho ya saya kemana-mana naik angkutan umum yang pasti pake jalan kaki buat ke stasiun atau halte bis terdekat. Terus di tempat tujuan juga banyak jalan kaki. Misalnya di Opera House, jarak halte bis ke bangunanya bisa 500m, belum jalan kelilingnya. Terus kalo abis lari-lari di pantai Bondi atau Manly sambil bergaya ala Baywatch,  badan jadi pegel-pegel. Malemnya adalah saat si Counterpain beraksi biar besoknya segar lagi!

Kalo gak percaya, ini penampakan kamar hotel saya:


Yang pasti bisa bikin irit lagi adalah kalo jalan-jalan bawa sendiri air minum botolan. Beli dulu di swalayan biar harganya murah (gak sampai $1 sebotol). Masukin di ransel. Soalnya di tempat wisata atau vending machine, satunya harganya minimal $3. Mayan kan?

Demikian sedikit tips hemat wisata. Rada ndeso tapi efektif!

Rabu, 12 Februari 2014

Jalan-jalan Australia: Semuanya Sama, Jangan Takut Nyasar!

Bagi Anda yang belum pernah ke LN karena takut atau ragu-ragu nanti nyasar, nih saya kasih tau: bahwa semua tempat di LN (tepatnya di Negara maju) itu adalah sama! Jadi di manapun Anda berada, tidak akan pernah merasa asing. Gak percaya?

Yang pasti samanya adalah bahwa semua kota itu ada di peta dan semua peta sekarang ada di ponsel, maka Anda tidak akan nyasar. Kalo anda ragu-ragu ada di mana, buka saja Google Map. Tinggal Anda cari mau kemana, ketik alamat tujuan, nanti si gugel yang akan menyarankan Anda naik bis/kereta nomer berapa, jalan kaki berapa meter, belok ke mana saja pasti ketemu. Makanya saya bilang dari kemarin, internet adalah teman Anda.

Kalau si gugel gak tau Anda naik apa (kalo pakai kendaraan umum), maka kota-kota besar di Australia (saya alamin di Melbourne, Gold Coast, Sydney, Brisbane, juga Auckland di NZ sana), semuanya mempunyai website angkutan umum yang bisa diandalkan. Tentu berbeda-beda nama websitenya (silakan cari sendiri di internet). Tinggal masukkan alamat di mana Anda berada, alamat atau landmark tujuan Anda, maka si website itu akan menunjukkan Anda harus naik bis/kereta/feri yang jam berapa, dilanjut naik apa, terus jalan berapa meter ke tujuan. Yang pasti saya tidak pernah nyasar nyari alamat apapaun yang saya tuju di kota-kota tersebut. Atau kalo anda tidak pakai website, pasti di stasiun bis, kereta, atau feri bisa dicari gratis daftar rutenya. Ini saya alami di Singapura, Istanbul di Turki sana, maupun di Washington DC di Amrik sana. Semuanya lengkap dan jelas (pamer dikit!).

Bahkan di Australia sini, cara nyebrang jalan pun sama. Jadi Anda tinggal berdiri di lampu merah, tekan tombol mau nyebrang, tunggu lampu hijau nyebrang menyala. Kalo lampu menyala, saatnya anda nyebrang barengan orang lain yang nunggu dengan teratur. Yang berbeda cuman nadanya. Kalau di Perth lampu hijau nyala bunyinya tututututut... maka di Sydney bunyinya treettreettreet..kayak senapan mesin. Halah!

Yang sedikit berbeda adalah karcisnya. Kalo di Perth kita pilih pakai kartu kayak ATM yang diisi model pulsa. Begitu naik bis/feri/kereta tinggal di tag-on, kalo turun tingal di tag-off nanti pulsa kita berkurang sesuai jarak. Ini sama dengan di Melbourne, Gold Coast, dan Brisbane. Di Sydney dan Auckland karcis masih pakai kertas dan belinya bukan di supirnya tapi di toko eceran macam Seven eleven (denger-denger mau diganti pakai kartu kayak di Perth). Di Sydney, karcis bis gak bisa dipakai naik kereta (rada repot tapi ya apa boleh buat)

Terus kalo Anda sewa mobil malah repot kalo dipakai di dalem kota. Bayar parkir mahal banget. bahkan di hotel Ibis Sydney tempat saya nginep, ongkos parkir di hotel adalah $50 sehari padahal sewa kamar cuman $130an semalem. Enaknya kalo mobil bisa dipakai ke luar kota, misalnya ke Blue Mountains di Sydney (bagus lho!) atau Mt Buller di Melbourne buat liat salju dan main ski (saya udah bosan liat ski di Amrik, jadi di Australi saya udah gak minat lagi). Jalan kalo di dalam kota macet dan rada rumit. Bahkan cara belok kanan bagi mobil di Melbourne malah aneh banget, mesti ambil jalur paling kiri dulu (di sini setir letaknya di kanan kayak di Jakarta), menunggu mobil yang lurus abis, baru belok kanan. Temen saya di Melbourne malah gak berani nyetir di dalam kota karena aturan ini. Jadi: kalau jalan di dalam kota jauh lebih mending naik angkutan umum.

Satu lagi: umumnya di daerah CBD tersedia bis gratis yang muter-muter keliling kota tiap 8 atau 10 menit sekali. Ini ada di Perth, Melbourne (namanya trem), Sydney, Brisbane. Pokoknya udah umum deh.

Mungkin di Indonesia dianggap hebat, tapi di sini biasa aja: waktu konferensi di Auckland, saya baru pertama kali ke NZ, sama sekali gak ada orang yang kenal, biasa aja tuh, mendarat di bandara, cari taksi, checkin hotel, cari tempat konferensi, jalan-jalan, semuanya sendiri dan lancar jaya berkat internet. Coba bayangin orang bule mau konferensi katakanlah di Jalan Kramat Raya Jakarta sana misalnya, bisa kesasar dia ke Kramat Tunggak karena gak ada peta online dan petunjuk angkutan umum yang jelas, malah mungkin kena korban copet (ups...)

Ini contoh hasil pencarian saya melalui situs translink punyanya Negara bagian Queensland. Ini rute dari hotel saya di Gold Coast menuju hotel saya di Brisbane (jarak 73km):


Nah jelas kan? Di situ ditunjukin dari hotel saya harus jalan 106 m ke halte Remembrance Drive di Markwell Avenue. Kemudian naik bis nomer 745 jurusan Surfers Paradise ke Nerang station. Sampai di stasiun jalan 45 m ke platform 2. Abis itu naik kereta VLBD jurusan Varsity Lake ke Brisbane Airport, turun di South Brisbane Station. Kemudian jalan 417m ke Griffith Univeristy Southbank Campus. Anda perhatikan: bahkan petunjuk arahpun lengkap sampai meter-meternya! Gampang kan?

Jadi tunggu apa lagi? Ayo segera cek saldo tabungan Anda! Gak usah takur nyasar!

Minggu, 26 Januari 2014

Edisi Sok Tahu: Pengalaman (+Tips) Liburan di Australia

Sesuai janji saya, maka biar Anda jadi kepingin, saya akan membuat review mengenai liburan saya baru-baru ini. Kalo diibaratkan menulis disertasi, maka tahapan ini adalah bab pembahasan, setelah semua bab-bab individual ditulis. Bab-bab individual, misalnya satu bagian menulis mengenai Sydney, kemudian bab berikutnya menulis Gold Coast dan seterusnya. Kalo menulis bab pembahasan di disertasi sulit, maka menulis review jalan-jalan ini pastinya gampang.

Mengapa saya menulis ini? Karena saya ternyata sudah hampir tamat mengelilingi Australia. Tepatnya saya sudah menunjungi Perth (malah sudah hampir empat tahun tinggal di sini), Melbourne (lima hari), Sydney (enam hari), Gold Coast (empat hari), dan Brisbane (empat hari). Kota besar di Australia yang belum saya kunjungi; Adelaide (South Australia), Hobart (Tasmania), dan Darwin (Northern Territory). Tapi saya denger, kota-kota tadi kurang begitu top untuk daerah tujuan wisata, jadi ya gapapa gak saya kunjungi. Oya saya bahkan sudah menyeberang ke Selandia Baru sana, tepatnya di Auckland (empat hari).

Ini kesan yang saya tangkap selama kunjungan singkat tadi lho ya, sebagai turis dan bukan penduduk asli, jadi kalo ada yang berbeda dengan Anda yang barangkali tinggal di kota-kota tersebut atau mengunjunginya, ya harap dimaklumi. Terutama ini ditujukan buat Anda yang belum pernah ke Australia (atau ke luar negeri lainnya).

Nah, kira-kira poin apa sih yang menarik? Saya akan berturut-turut membahasnya secara berurutan, dimulai dari perencanaan, hotel, objek wisata, supaya kalo Anda akan jalan-jalan sudah tau apa yang akan Anda hadapi.

Oya, entri ini akan panjang banget, jadi ada baiknya Anda siapkan segelas kopi dan singkong goreng (bener, jangan sepelekan singkong goreng, karena kalo Anda udah lama tinggal di luar negeri, makanan Indonesia apapun akan jadi lezat sekali!).

Pertama-tama: internet adalah teman Anda yang paling top. Ini bisa dimulai sejak sebelum berangkat. Pada setiap perencanaan, setelah menentukan DTW-nya, tentunya Anda beli tiket. Nah, tinggal buka internet, cari tiket yang paling murah yang sesuai dengan waktu yang Anda rencanakan, beli tiket online. Habis beli tiket, tentunya sewa hotel, lewat internet juga. Biasanya saya pakai hotels.com atau booking.com. Berkat internet ini saya pernah dapat tiket pesawat murah banget yaitu jurusan Sydney-Gold Coast yang cuma $39 saja! Juga hotel saya di Melbourne, fisik bagus, letak di tengah CBD, cuma $70 semalem! Internet juga penting kalo Anda sudah nyampe di tujuan, tinggal liat Google map semua beres.

Oya sebelumnya (saya kelupaan), kalau Anda belum pernah ke Australi, kota manakah yang sebaiknya dituju? Berdasarkan pengalaman saya, yang paling top tentu saja Sydney! Soalnya ikon Australi adalah Opera House yang ada di situ (dan juga kanguru tapi kan mahluk ini ada di mana-mana!). Kalo anda belum berfoto di Opera House ntar temen-temen Anda gak yakin kalo Anda sudah ke sana! Berikutnya, adalah Gold Coast, tapi dengan catatan, yaitu Anda suka atraksi heboh (roller coaster dsb.) dan kalo punya anak, pastikan anak-anak udah agak besar (lebih dari 110cm atau 120 cm tingginya), karena untuk naik di wahana-wahana di Gold Coast syarat fisiknya itu. Kalo anak-anak masih kecil di bawah 10 tahun katakanlah  begitu, maka sangat mungkin malah bengong aja di Gold Coast kecuali liat pantai Surfers Paradise yang top itu. Ingat Gold Coast menyebut diri sebagai the Capital City of Theme Parks in Australia lho!

Kota berikutnya adalah Melbourne, kotanya lebih cantik daripada Sydney, dan tidak sebesar dan sesemrawut Sydney. Urutan berikutnya: Brisbane dan Perth, sama-sama gak menarik. Kesannya cuman satu: 'yah sudahlah yang penting sudah ke sana dan foto-foto'. Tidak ada yang wah banget. Bonus: Auckland di NZ ya sami mawon, kurang bagus. Pernah waktu saya di Auckland, saya cari di internet daerah mana yang wajib dikunjungi, disebutkan Mission Bay. Saya capek-capek cari rute bis ke sana, dan ternyata itu adalah pantai yang biasa banget, malah Pantai Ayah di Kebumen sana barangkali lebih bagus!

Selasa, 07 Januari 2014

Diteriakin Orang Sekampung

Ini cerita lama, tapi anak saya Aby seneng banget kalo saya ceritain hal ini:

Pada suatu hari Minggu saya lagi kumat rajinnya (baca: ada deadline), sehingga saya harus ke kampus. Nah, kampus (biasa saya sebut kantor) saya ini letaknya bukan di kampus utama, melainkan agak keluar dikit, nyatu sama kantor swasta lainnya. Letaknya di jalan melingkar berbentuk kotak gitu (kotak kok melingkar, bingung). Maksudnya kalo saya lewat depan kantor saya itu, maka kalo diterusin jalannya melingkar ke kantor itu lagi, dengan ada jalan keluarnya.

Tanpa perasaan bersalah saya masukilah jalan itu. Ternyata belok kiri ditutup, jadi saya belok kanan dengan niat memuterin kotakan itu, toh akhirnya bisa juga nyampai di kantor. Habis belokan pertama saya curiga nih, kok jalan sepi amat, terus banyak orang nongkrong di pinggir jalan. Orang-orang itu pada teriak: hoi, mau kemana kamu? Saya buka jendela, saya jawab: itu lho mau ke kantor saya di depan, muter dikit!

Saya bingung kenapa gak ada mobil lain dan kenapa orang di pinggir jalan makin banyak.  Terus orang-orang tambah neriakin saya: Hei, jalanan ditutup! Gak boleh ada mobil lewat! Teriakan bertambah kencang. Saya tetap bingung, sambil buka tangan dengan gesture 'saya gak tau ada apa'. saya tetep jalan pelan-pelan. Orang-orang tambah ramai, dan saya tambah diteriakan orang banyak: hei balik kamu, cepat!!! Ada yang bilang: bego kamu lewat sini! Lha saya tambah bingung wong gak ada larangan. Malah ada yang teriak kenceng banget; What the f**k are you doing here?? Saya udah jengkel mau saya jawab: What's the problem? I didn't see any sign!!

Baru mau mangap, segera saya sadari bahwa jalan memutar tadi lagi dibuat lintasan balap sepeda. Pantesan banyak yang nonton! Tepat saat itu lewatlah puluhan sepeda yang sedang berlomba kenceng-kencengan nyalip saya yang terbengong-bengong. Saya kontan mengkeret di pinggir jalan, rasanya seperti orang paling tolol sedunia diliatin orang sekampung yang misuh-misuh!

Lha siapa yang tau coba, gak ada tanda, gak ada polisi, tau-tau kantor saya jadi lintasan balap sepeda!