Minggu, 07 September 2014

"Staaett Strit"

Pada suatu hari saya mau nelpon taksi karena mau ke bandara. Saya waktu itu lagi di rumah temen di State Street. Setelah nyambung, si operator nanya di mana alamat penjemputan.

Saya: Number xx, di State Street (saya ngucapin 'state' ya biasa aja, 'stet strit')
Operator: Sorry sir, what street?
Saya: 'Stet strit'
Operator: Sorry sir, I can't locate the street with that name
Saya (dalam hati): halah. (Saya ulangi lagi): 'Stet strit'!! (rada kenceng)
Operator (belum ngerti juga): Could you please spell the name of the street?
Saya (dalam hati: halah lagi): The name is es-ti-ei-ti-ii street
Operator: Oo, is that staaett strit?
Saya : Nah itu dia! Benul, eh betul!

Ya ampunnn, barulah saya sadar lagi bahwa saya lagi di Australi! Orang sini memang kalo ngomong logatnya agak panjang dan ditarik. Saya yang biasa ngucapin 'state' jadi 'stet' ala orang Amrik, rupanya tidak laku di sini, dan harus diucapkan dengan sedikit nyeret: 'staaett'. Pantesan saya tadi kayak orang bego! Buat Anda yang baru denger orang Australi ngomong, pasti gak gampang mudeng, karena mereka ngomongnya emang rada aneh, misalnya kata 'mate' diucapkan 'maett' (bukan 'met'), atau 'today' dibilangnya 'tudaii'!!

Kamis, 04 September 2014

Sekali-kali Serius: Anatomi Sebuah Tesis

Baiklah sekarang saya mau menulis tentang akademis, katanya saya ini mahasiswa PhD kok malah seringnya nulis yang enggak-enggak. Sebagaimana pernah saya tulis di waktu lalu, persyaratan kelulusan saya adalah: membuat disertasi (di tempat saya disebut tesis; kalo di Indonesia kan tesis buat S2 ya? Entah kenapa jadi begitu) yang panjangnya maksimal 100 ribu kata (tidak ada panjang minimal: 100 ribu kata ini kira-kira setebal 300 halaman dengan ketikan satu setengah spasi; professor saya bilangnya ya minimal 200 halaman lah); terus menulis di jurnal (minimal dua jurnal klasifikasi A), terus mempresentasikan hasil riset di dua konferensi. Udah gitu doang! Eh ya bukan gitu doang ding, itu berat lho. Sebagai catatan: syarat kelulusan ini berbeda-beda tergantung universitasnya, tergantung jurusannya, dan tergantung pula pada dosen pembimbingnya, bahkan mungkin juga tergantung mahasiswanya. Ada temen saya yang lulus PhD juga walaupun hanya nulis tesis plus satu jurnal, itupun kelas B! Dan bahkan ada professor yang tidak mengharuskan jurnal maupun konferensi (enak ya?).

Nah, saya mau cerita dikit mengenai anatomi sebuah tesis. Tesis dimulai dengan Bab 1 yaitu Pendahuluan. Inilah bagian terpenting dari sebuah tesis, kata dosen penguji, di samping bab mengenai kesimpulan tentunya. Karena kata seorang dosen penguji (reviewer), biasanya dua chapter itulah yang dibaca sama mereka untuk menentukan layak tidaknya tesis.

Dalam bab ini dibahas mengapa riset tertentu dilakukan (kalau bahasa awamnya: ngapain sih deteliti, kurang kerjaan amat?), dengan menyertakan alasan-alasannya. Biasanya alasannya ada dua, yaitu karena subjek tersebut belum pernah diteliti oleh orang lain dan riset tersebut ada manfaatnya. Untuk meyakinkan bahwa riset ini belum dilakukan oleh orang lain, maka secara singkat diuraikan riset-riset dalam bidang yang sejenis (secara rinci riset yang sudah dilakukan oleh orang lain akan dibahas di Bab 2-Literature Review, ntar kita bahas tersendiri), untuk meyakinkan bahwa ‘tuh liat riset kayak saya ini belum pernah dilakukan orang kan?’. Juga dibahas mengapa ini penting, artinya seberapa signifikan sih riset ini akan menghasilkan sesuatu. Gampangnya, jangan sampai kita udah capek-capek riset, terus orang bilang ‘halah cuman segitu doang?’.  Abis menguraikan ‘apa’ risetnya, maka di bab ini juga diuraikan metodologi risetnya kayak apa, terus cara pembahasannya gimana, tidak ketinggalan istilah-istilah yang dipakai, batasan-batasan yang ada, dan sistematika tesis biar pembaca tau bagaimana wujud tesis ini secara keseluruhan.

Bab 2, Literature Review, membahas hasil-hasil penelitian dalam bidang sejenis. Di sini diuraikan mula-mula riset dalam bidang ini pertama kali dilakukan kapan, terus perkembangannya gimana, hasil-hasilnya gimana. Isinya bukan hanya daftar peneliti beserta hasil-hasilnya melainkan berisi analisis secara kritis, misalnya membandingkan hasil yang satu dengan yang lain, mengkritisi metodenya, menyarikan poin-poin yang penting. Pokoknya bab ini fungsinya mendemonstrasikan kepada pembaca bahwa kita udah tamat mempelajari sampai sedetil-detilnya semua riset dalam bidang serupa yang sudah dilakukan orang di seluruh dunia. Nah, ampuh kan?

Abis itu adalah biasanya Bab 3, yaitu metodologi. Ini menguraikan metodologi apa yang kita gunakan dan mengapa itu digunakan. Metodologi ada tiga, yaitu kuantitatif, kualitatif, dan campuran. Abis menguraikan metodologi, terus metode risetnya apa. Metodologi sama metode beda lho ya? Methodology menyangkut dasar pemikiran, sedang metode menyangkut caranya, misalnya dengan survei (ada mail survey, internet survey, interview), observasi, studi kasus, atau eksperimen. Selain metodologi dan metode, dibahas pula populasi penelitian dan sampel yang digunakan. Abis itu juga metode analisisnya, dan pembahasannya termasuk ukuran satuan yang dipakai.

Bab 4, yaitu kondisi yang sekarang terjadi. Ini biasanya yang paling gampang, karena hanya menguraikan fakta-fakta yang ada pada saat penelitian dilakukan. Tinggal kompilasi data-data yang ada ditambah dengan uraian di sana-sini, jadi deh.

Bab 5 dan kalau perlu Bab 6 (kalau satu bab gak cukup, biar gak terlalu panjang) biasanya berisi hasil penelitian. Di sini disajikan table-table yang didapat dari hasil penelitian, juga analisis statistiknya yang diperlukan. Bab ini juga lumayan gampang, karena biasanya dengan program statistic (misalnya SPSS), semua data kita bias hasilkan di computer tanpa kita capek menghitungnya karena tinggal pilih variable input dan apa yang kita cari maka table sudah otomatis dihasilkan. Tinggal mindahin ke tesis dan diberikan narasi seperlunya.

Kemudian Bab 7 akan menganalisis Bab 5 dan 6 dihubungkan dengan kondisi yang ada (Bab 4), maupun hasil-hasil riset sebelumnya (Bab 2). Di sinilah kecanggihan mahasiswa diuji, sejauh mana dia bisa menganalisis hasil tadi dan mencari hubungan-hubungannya dengan variable-variable yang ada. Biasanya juga diuraikan perbedaan dan persamaan riset yang dilakukan dengan riset-rise terdahulu. Bab inilah yang paling sulit.

Selanjutnya Bab 8 atau bab terakhir isinya adalah kesimpulan dan rekomedasi. Ini menghimpun seluruh hasil yang diperoleh, kemudian rekomendasi mengenai apa yang harus dilakukan oleh pihak terkait sehubungan dengan hasil itu. Biasanya bab ini rada gampang karena merupakan singkatan dari bab-bab sebelumnya.


Demikianlah sedigit gambaran mengenai anatomi sebuah tesis. Capek kan bacanya? Baca aja udah capek apalagi nulis tesis, hayo?

Senin, 01 September 2014

Customer Service Terlelet di Dunia

Ini memenuhi janji saya bahwa saya akan menulis mengenai call center. Begini nih: setiap perusahaan di Australi, bahkan instansi pemerintah, selalu ada call center, yaitu nomor telpon yang bisa dihubungi. Perusahaan yang pakai misalnya perusahaan telpon, tv kabel, gas, dsb. Nomornya biasanya pendek-pendek, misalnya 3800 atau 1300 atau 3500. Nomornya sih singkat tapi nelponnya bisa bikin jengkel setengah mati.

Berkali-kali nelpon ke nomor begituan selalu modusnya sama: Setelah nomor nyambung, sama mesin penjawab dikasih beberepa alternatif. Abis itu ada sub-sub alternatif lagi yang harus dipilih sesuai tujuan kita nelpon. Abis itu ke sub-subnya lagi, kira-kira sampai lima level, baru akan dihubungkan ke operator. Nah, di sinilah masalahnya! Setelah mesin penjawab bilang: Anda akan kami hubungkan dengan operator kami, tunggu sebentar. Ini dia nih yang paling ngeselin. Selalu dibilang sama mesin 'panggilan Anda sangat penting, mohon tunggu sejenak'. Ternyata yang dibilang 'tunggu sejenak' itu paling cepet dua puluh menit! Lha katanya 'panggilan Anda sangat penting' kenapa gak diangkat-angkat! Modus berikutnya adalah orang pertama akan nanya-nanya identitas kita, nomor pelanggan, nama dsb dan lalu masalahnya apa. Selesai? Belum juga, karena sama si orang pertama ini, kita dilempar lagi ke orang kedua! Nunggu lagi sekitar sepuluh menit, sambil tidak lupa dibilang 'panggilan Anda sangat berharga, mohon tunggu sejenak', sambil diperdengarkan lagu-lagu gak lucu dari seberang telpon (Wong panggilan berharga kok suruh nunggu sepuluh menit). Kemudian si orang kedua nanya lagi masalahnya apa. Kemudian dia ngutak-atik komputer dia lagi, sambil kita didiamin kira-kira 10 menit sambil diperdengarkan lagi musik gak mutu. Biasanya masalah akan selesai di operator kedua ini, tapi beberapa kali dilempar juga ke orang ketida dengan tidak lupa nunggu 10 menitan tadi. Alhasil, diperlukan waktu minimal setengah jam nelpon untuk memecahkan masalah kita!

Padahal kita ini pelanggan lho, yang bayar gaji si operator itu. Dalam hal ini, operator di Indonesia jauh lebih bagus dan ramah. Kata orang-orang di Perth sini, masalahnya terletak pada kenyataan bahwa operator call center itu adanya di luar negeri, bukan di Australia, misalnya di India atau Pakistan untuk menghemat ongkos. Jadi mereka pakai perusahaan specialis call center di negara ketiga tadi, bukan karyawan perusahaan itu sendiri! Pantesan! Tapi plis deh...

Minggu, 31 Agustus 2014

Ojo gumunan: Imigrasi

Kalo ada suatu institusi yang istri saya paling 'benci' ya satu ini: Imigrasi Australia! Ceritanya panjang, bermula dari permohonan visa dia (dan Aby) ke Australi untuk menemani saya. Waktu itu permohonannya lama banget prosesnya, gara-gara katanya ada bekas luka di paru-paru istri saya tersebut. Setelah melalui pengecekan selama nyaris dua bulan dengan bolak-balik ke dokter yang ditunjuk di Jakarta, keluarlah itu visa. Tapi ini visa bukan sembarang visa, melainkan diembel-embeli dengan sayarat bahwa istri saya harus dateng ke klinik paru-paru yang sudah ditunjuk Imigrasi di Perth sini setiap enam bulan sekali untuk difoto ronsen. Sebagai warga taat hukum, kami melakukan pemeriksaan tersebut beberapa kali sampai kira-kira udah empat kali baru dinyatakan 'klir' sama itu klinik, dan kata mereka gak usah balik lagi. Lega dong kami?

Ternyata walaupun sudah dinyatalan klir sama klinik, tetep aja di imigrasi bandara istri saya selalu bermasalah. Gak peduli dia mau balik ke Indo maupun dateng lagi ke Perth, setiap abis melalui pintu imigrasi, selalu dia disuruh menghadap dulu sama petugas imigrasi khusus yang bukan di pintu imigrasi. Dan selalu ditanya-tanya mengenai paru-parunya, dan selalu dijelaskan bahwa statusnya sudah klir. Begitu terus, jadinya tiap masuk bandara Perth selalu menjadi penumpang terakhir yang ngambil tas bagasi, yang lain udah beres pulang semua. Kebetulan saya jarang pulang bareng istri ke Indo jadi detil pertanyaannya saya gak tau, tapi yang pasti istri saya kesel banget kenapa selalu dimasukin ruang khusus padahal status udah gak masalah.

Nah, kemarin dulu, kebetulan saya sekeluarga baru pulang dari Jakarta, saya baru ngalamin peristiwa ini. Jadi pas mau masuk pintu imigrasi, si petugasnya bilang kami harus ketemu dulu sama bosnya. Nah, rupanya begini toh ceritanya. Si bos imigrasi bilang ke istri saya 'data kamu gak ada nih di komputer, jadi kamu gak bisa masuk ke Australi'. Tentu saja istri saya kaget! Lha, itu paspor udah dicap keluar masuk ke Perth bolak balik kok gak masalah? Si petugas tetep gak ngijinin, sambil berkeras 'pokoknya datanya gak ada di komputer' (mulai keluar jurus 'pokoknya'). Lha tentu saja istri saya tambah kesal, terus bilang 'telpon aja tuh klinik, tanyain ke sana apa saya bermasalah'. Mereka mencoba telpon, tapi rupanya klinik udah tutup karena udah di atas jam 17. Saya mulai jengkel, saya bilang 'ini kami udah rutin ke klinik dan dinyatakan klir, kalo gak ada di komputermu ya bukan masalah kami' kata saya dengan rada keras. Eh, si bule malah ngancam 'hey, saya bicara sama istri kamu, kamu gak usah ikut-ikutan!' Waduh, kok gitu caranya. saya tambah kenceng ngomong: 'Lha itu kan bukan salah saya kenapa data gak ada di komputer, kan kliniknya punya pemerintahmu juga, kenapa kami yang bermasalah'. Eh, si bule keluar katroknya bilang: kamu gak usah ngomong, sekali lagi ngomong saya usir kamu!' Idih, kampungan amat!

Akhirnya, setelah si imigrasi diskusi sama temen-temennya, barulah istri saya boleh masuk ke Perth, tapi tentu saja ditambah ancaman: 'ini dalam waktu seminggu kamu harus nelpon ini untuk mengklirkan masalah (sambil diberikan nomer telpon departemen imigrasi), kalo dalam waktu seminggu kamu gak telpon, kamu bisa diusir dari Australi!' Sambil ngomel-ngomel kami segera pulang dengan badan capek dan emosi tinggi!

Besoknya sesuai dengan yang disuruh, saya yang kebagian nelpon. Dan tahukan Anda bahwa nelpon di sini itu sulit nyambung? Nelponnya sih gampang, tapi sampai terhubung ke orang beneran sulitnya minta ampun! Percaya deh, costumer servive di Indonesia jauh lebih bagus dalam hal ini. Pertama, nomor telepon diputer, terus sama mesin penjawab dikasih beberapa alternatif, nomor sekian untuk urusan visa, nomor sekian untuk paspor dsb. Itu step udah saya ikuti semua, akhirnya setelah kira-kira masukin lima kali pilihan, barulah ada orang yang menjawab (lain kali akan saya tulis masalah telpon ini di entri lain!). Setelah dijelaskan, sama si orang, dilempar lagi ke orang lain, kemudian dilempar lagi, akhirnya malah kembali ke menu awal, jadinya masalah gak selesai-selesai! Besoknya saya coba laigi, kejadina yang sama terulang kembali. Begitu terus udah tiga hari dicoba belum beres-beres juga!

Karena lewat telpon gagal, terpkasalah kami ke Kantor Imigrasi betulan yang ada orangnya! Letaknya kira-kira 10 km dari rumah. Sampai di kantor imigrasi, antre sebentar lalu ketemu petugasnya. Kasus dijelaskan ke dia. Eh, tahukan apa jawabnya? Wah, kalo masalah begitu bukan bagian kami, telpon aja di nomor ini (sambil memberikan suatu nomor)! Lha apa gak gondok coba, udah pergi di kantor imigrasi, ketemu petugasnya, eh, malah disuruh menelpon ke nomor yang dulu diberikan oleh petugas imigrasi bandara. Lha orang ini apa gunanya? Segera kami jelaskan bahwa kami udah nelpon kemarin dulu, gak ada hasilnya. Si petugas kantor tetep berkeras 'kamu tetap harus nelpon nomor itu'. Weleh-weleh...

Dengan perasaan dongkol setengah mati, kami telpon nomor itu. Rupanya di kantor imigrasi itu ditaruh beberapa telpon, yang gunanya untuk nelpon kantor imigrasi! Aneh gak sih, udah di kantor imigrasi, ketemu orang imigrasi, eh tapi malah disuruh nelpon kantor imigrasi! Kejadian yang sama terulang, pencet nomor, ditanya sama mesin, tujuan apa, dst seperti kalo nelpon sendiri. Kembali dilempar ke beberapa orang, kemudian terakhirnya kembali lagi ke menu awal. Begitu terus, kira-kira abis waktu sekitar satu jam untuk mendapatkan clearance lewat telpon itu, dan nyatanya emang dinyatakan 'kamu gak ada masalah kok'. Cape deh...

Setelah klir, akhirnya kami pulang, dan ya emang begitu doang. Gak ada masalah apa-apa. Sampai sekarang saya masih heran kenapa komputer klinik gak nyambung sama komputer bandara, dan kenapa kesalahan ditimpakan ke kami untuk membuktikan ketidakmasalahan kami. Malah instri saya bersumpah bahwa dia tidak akan kembali ke Australi lagi selamanya! Gawat kan? Untung sekolah saya udah mau selesai!

Senin, 16 Juni 2014

Ini yang Katanya Producitivity

Waktu saya dulu kuliah di Amrik, saya dapet ilmu baru yang namanya produktivitas, Penjelasannya begini: mengapa gaji pegawai di negara maju besarnya berkali-kali lipat disbanding gaji di negara berkembang? Jawabannya adalah produktifitas. Artinya dalam satu jam mungkin pegawai di Negara maju berhasil menyelesaikan tiga perkerjaan, sedang di Negara maju cuman bisa menyelesaikan satu pekerjaan, karena malah pada ngobrol atau main facebook kalo lagi kerja. Masuk akal juga ya? Cuman sampai sekarang saya belum ketemu jawaban mengapa gaji sopir taksi di Amrik lebih tinggi dari gaji sopir di Indonesia, padahal produktifitas paling sama aja, sejam bisa mengantar tamu sepanjang 50 km, misalnya.

Berkaitan dengan ini saya kemarin mengalami sendiri. Mungkin Anda sudah tau bahwa kalo seseorang mau habis kontrakan apartemen dan tidak diperpanjang lagi, kondisi apartemen waktu dikembalikan harus bersih mengkilap seperti sedia kala, gak boleh ada satu noda pun, baik di karpet, di lantai, ataupun kamar mandi. Nah, saya kan udah mau pulang nih (tepatnya keluarga saya yang pulang, saya mah masih bolak-balik Jakarta Perth menyelesaikan tesis). Saya liat kok apartemen saya rada berantakan dan kotor. Mau saya bersihkan sendiri nanti malah gak sesuai standar, maklumlah agen property saya orangnya reseh, daripada udah saya kerjain terus dia bilang kurang ini itu dan saya harus bayar lagi kan repot.

Segera saya telpon perusahaan cleaning service. Tentunya yang sudah diaaprove sama si agen, kalo gak ya sama aja ntar dia gak mau terima. Ternyata taripnya mahal banget yaitu $120 per jam. Bisa banyangin gak Anda, bersihin rumah bayarnya lebih dari satu juta per jamnya? Ini perjam lho ya,bukan seharian. Tapi ada boleh buat gak ada pilihan lain. Saya nanya ke dia: ngerjain apartemen dua kamar berapa jam ni Pak? Dia jawab: wah gak tau, tergantung tingkat kekotorannya. Waduh!

Tepat pada jam yang dijanjikan (ingat: di sini perusahaan cleaning service pun datang tepat waktu sampai menit-menitnya!), mereka datang. Ternyata mereka jumlahnya bertiga, bule suami istri sama satu orang lagi. Pantesan taripnya $120 per jam, berarti sejamnya $40 per orang, masih wajar lah (walaupun ini sama dengan tariff saya selaku research assistant di kampus. Opo tumon, gaji cleaner = research assistant?).

Setelah bersapa 'how are you', tanpa basa basi, mereka langsung berbagi tugas. Si ibu ngebersihin kamar mandi, si bapak lantai dan rumah, si satu lagi kebagian dapur. Mereka kerjanya cepet banget. Sret..sret..sret..srok.srok..srok...tidak ada yang ngobrol mereka itu, bekerja dalam diam dan ngebut. lantai dipel, toilet disikat, sarang laba-laba disapu, kompor digosok, sink disikat mengkilap, jendela di lap dst. Sementara saya klekaran di kamar sambil browsing di ipad, dan sedikit nggaya: kapan lagi ada tiga bule ngebersihan rumah saya! Dalam hati saya mikir, berapa jam ya mereka selesai, soalnya ya itu tadi tarifnya lumayan!

Dengan tetap tidak ngobrol apapun mereka kerja. Saya bayangin kalo orang Indonesia yang kerja, mungkin bapaknya sambil siul-siul atau ngrokok tengok sana tengok sini sambil ngobrol sama istrinya. Atau si istri nggosok kamar mandi pelan-pelan sambil nyanyiin lagunya Mulan Jameela, toh bayarnya berdasar jam ini! Atau asisten satu lagi sambil dengerin headphone lagunya Rhoma Irama!

Tepat dua jam kemudian, kerjaan beres. Saya liat kamar mandi udah kinclong, lantai udah bersih, dapur udah mengkilat, jendela dan pintu udah bersih seperti sedia kala! Wah hebat nih tiga orang, professional banget! Dengan rela, saya bayar mereka $240! Bayangin dua juta setengah buat bersih-bersih rumah!

Ternyata itu toh produktifitas!

Koboi Kanguru

Lama-lama saya tinggal di sini, saya makin meresapi tingkah polah orang Australia (mungkin kalo digedein lagi: tingkah polah orang di negara maju). Salah satunya adalah mereka orang yang taat hukum (masih ingat cerita gelandangan yang dulu?). Konsekuensi dari hal itu adalah mereka menuntut haknya dengan cukup serius; kalo ada yang melanggar hukum, mereka akan marah sekali (ingat cerita klakson dan balap sepeda?).

Nah, semalem saya mengalami kejadian 'horor', tapi untunglah bukan saya pelakunya atau korbannya. Sehabis menyantap makan malam mi ayam di warung favorit saya, yaitu Bintang Kafe, saya mau pulang dan kembali ke parkiran. Waktu saya di dalam mobil, saya liat ada sebuah jip besar, kayaknya Toyota Prado, yang mau keluar dari rumahnya. Rupanya driveway (catatan: buat mbah-mbah di Ngablak sana saya kasitau ya bahwa driveway adalah jalan mobil menuju rumah dari jalan besar. Jadi jalannya cukup buat satu mobil doang) orang itu terhalang oleh mobil orang lain yang parkir. Harus diakui bahwa penerangan di situ rada-remang-remang, bahkan saya aja kalo lagi makan hampir-hampir parkir di driveway itu saking gelapnya. Si pemilik sedan barangkali gak tau bahwa dia parkir di driveway orang.

Nah saya liat si pemilik Prado ini kayaknya marah, tapi saya gak liat mukanya, kan malem, dan dia ada di mobil. Dia berhenti sebentar tepat di depan mobil yang melintang itu, lampu nyala, mungkin nungguin pemilik mobil datang. Eh, tidak ada yang nongol. Tiba-tiba si mobil besar ini mundur sejenak, kemudian ditabraknya mobil penghalang itu, gubrak, bumper Toyota melawan body samping sedan penghalang! Waduh, saya kaget, gile bener nih orang. Kemudian dia mundur lagi dikit, ditabrak lagi, gubrak lagi! Yang ketiga dia mundur lagi, sedikit belok, dia tabrak lagi, kali ini di bagian bumper kiri, sehingga mobil penghalang itu bergeser. Akhirnya si Toyota berhasil keluar dari driveway-nya, langsung ngacir ke tujuan! Wah serem kayak di film. Saya bayangin pemilik sedan yang lagi makan malem itu gak tau. Pas nanti dia keluar, baru akan liat sedannya udah penyok!

Ini baru koboi!

Sebuah Rekor?

Kalo saya pikir-pikir, saya itu di kampus kayaknya pegang rekor lho, yakni mahasisa PhD yang tidak pernah lembur di kampus! Jadwal saya itu tiap hari di kampus buat nulis adalah berangkat jam 8.30 pagi, sama dengan si Aby berangkat ke sekolah, kemudian pulang lagi jam 14.30 (makan siang di kampus). Tiap hari begitu, gak pernah saya lembur malem-malem ke kampus. Apalagi kalo weekend, tambah gak mungkin lagi. Denger-denger, banyak juga temen Indonesia yang sampai nginep segala di kampus buat nulis. Wah hebat nih, biar tesisnya bagus, nilanya A semua! Kalo saya mah targetnya gampang aja, lulus! Nilai gak penting! Kalo kebetulan saya ke kampus weekend bareng si Aby anak saya, itu tujuannya bukan mau nulis tesis, tapi mau download game di Ipad-nya, maklum gak ada Wifi di rumah. Nah walaupun weekend, banyak juga ternyata mahasisa PhD pada dateng di kampus. Wah hebat-hebat nih orang!
 
Selain rekor itu, ternyata terakhir ini saya juga pegang rekor sebagai satu-satunya PhD student yang namanya jadi nama piala. Tidak percaya? Lihat gambar berikut:
 

Apaan tuh? Itu adalah poster perebutan Budi Susila Cup (kalo Anda lupa nama saya Budi Susila, hehehe). yakni pertandingan bola yang diprakarsai temen-temen Aipssa,dengan saya yang nyediain pialanya, dalam rangka perpisahan saya yang udah mau selesai sekolah. Aipssa itu adalah Assosiation of Indonesian Post Graduate Students and Scholars in Australia, di mana saya pernah menjadi ketuanya Cabang Curtin University. Nah berhubung tim bola ini saya turut membidani kelahirannya, menjadi kaptennya, dan lalu menjadi manajernya, maka mereka membuat turnamen perpisahan itu. Tim bolanya sendiri saya yakin juga membuat rekor, yakni satu-satunya tim bola pelajar di luar negeri yang mendapatkan sponsor, yakni Garuda Indonesia, apa gak hebat? Liat aja seragamnya yang keren itu!
 
Yah begitulah, sekali-kali narsis!