Minggu, 23 November 2014

Hari Keramat Telah Tiba

Setelah mendapat masukan dari Pak Prof dan masuk bengkel bahasa, maka tesis saya siap untuk diserahkan kepada pihak universitas untuk diteruskan ke examiner alias dewan penguji. Tampaknya sih sederhana, tapi ternyata prosesnya cukup ruwet!

Mengapa demikian, karena itu saatnya pas dengan bulan Ramadhan. Ceritanya kan keluarga saya udah pulang pertengahan Mei 2014 karena kontrakan apartemen saya udah habis. Lalu saya melanjutkan sendiri menulis tesis di rumah temen di Perth. Kemudian menyerahkan draft akhir tesis ke Pak Prof, abis itu saya pulang (habis mau ngapain lagi di Perth, kan gak ada kegiatan). Tiga minggu kemudian saya balik ke Perth, ketemu Prof terus betulin draft komplet. Abis dibetulin, terus dijilid, lalu dikasih ke editor bahasa (proofreader). Abis itu balik lagi ke Jakarta karena ya gak ada kegiatan lagi dan juga karena udah bulan puasa. Tiga minggu kemudian si editor ngemail bahwa kerjaannya udah selesai, sehingga saya harus terbang lagi ke Perth untuk mendiskusikannya. Kemudian keluarga menyusul ke Perth tanggal 16 Juli 2014 untuk melakukan wisuda (pura-pura). Seminggu jalan-jalan, keluarga balik lagi ke Jakarta karena mau lebaran, saya menyelesaikan editing. Saya akhirnya pulang juga ke Jakarta walaupun editing belum saya selesaikan, soalnya udah lebaran minus tiga hari. Bayangin sibuknya bolak balik!

Nah, babak-babak terakhir itulah situsasi jadi ruwet. H minus tiga lebaran mendarat Jakarta, H minus dua terbang ke Salatiga untuk berlebaran, kemudian H plus dua balik Jakarta, lalu nyambung ke Perth lagi tanggal 30 Juli 2014. Sementara paling lambat saya harus submit terakhir tanggal 1 Agustus 2014, lewat itu saya harus bayar pakai duit sendiri biaya kuliah kira-kira $90 per hari (dihitung harian sampai dengan saat menyerahkan tesis). 

Nyampai Perth sore hari, langsung saya lanjutkan editing. Setelah selesai saya print malem tanggal 31 Juli, besoknya yakni 1 Agustus 2014, hari terakhir deadline,  saya ketemu dengan Prof saya di sebuah kafe untuk melapor bahwa saya siap submit (sebelumnya udah janjian dulu) dan meminta doa restu (halah!). Di akhir pertemuan, saya merayu si Prof untuk menandatangani surat pengantar submit, siapa tau masih ‘laku’ walaupun dia sudah diberhentikan oleh Curtin. (Catatan: Karena Prof saya udah gak kerja di universitas, dia tidak berwenang menandatangani surat pengantar submit. Supervisor yang baru, Ibu C, adalah pejabat universitas yang sangat sibuk, dan sialnya pas tanggal itu dia ada di Sydney ada acara, baliknya nanti sesudah tanggal keramat 1 Agustus, sehingga kalo nunggu dia, maka saya bisa relat submit dan saya harus bayar dendanya).

Abis ketemu si Prof itu, saya ke kampus untuk mengambil surat pengantar submit asli yang saya titipkan ke sekretaris Prof C itu untuk ditandatangani supervisor baru. Eh, dasar ini sekretaris oon, suratnya ternyata gak disampaikan ke Ibu C. Pas saya dateng ke sekretarisnya (yang tidak muda itu), dia bilang ‘gak ada kok formulirnya’ dengan tanpa perasaan bersalah. Saya rada ngotot juga ‘udah kok dikirim lewat email, coba dicek’. Terpaksa kita berdua ngecek inbox di emailnya dia, dan benar, email saya ngejogrok dengan manis di situ, tanpa pernah dia buka. Walah! Untunglah saya udah punya surat pengantar submit ‘cadangan’ yang ditandatangani prof asli saya tersebut. Kalau tidak ya saya harus nunggu si Ibu dateng ke Perth yang entah kapan, sambil bayangin berapa denda yang harus saya bayar.

Akhirnya tesis beserta surat pengantar cadangan dengan selamat saya setor ke pihak univeristas, dan lalu mendapatkan tanda terima submit, sebuah dokumen yang sangat berharga dan maha penting, yang menandakan bahwa saya sudah selesai sekolah dan boleh pulang! Periode empat tahun paling berat dalam hidup saya  sudah berakhir. Segara saya beli tiket balik dan malemnya pulang langsung ke Jakarta dengan perasaan merdeka semerdeka-merdekanya! Prinsipnya: yang penting submit dulu, urusan hasil belakangan! 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar