Minggu, 18 Juli 2010

Makan Sate Kanguru di NAIDOC

Selama tiga minggu sebelum tahun ajaran dimulai, diadakan orientasi yang disebut sebagai Introductory Academic Program (IAP) dari 28 Juni sampai dengan 15 Juli (tiga minggu). Isinya macem-macem: academic writing, oral presentation, plagiarism (lagi!), motivasi, dsb yang rada membosankan secara saya sudah tamat mengenai hal ini (istilah ‘secara’ masih ngetop gak di Jakarta?), bukan saja karena Amrik aja udah saya taklukkan (sombong mode:on), tapi materi yang sama juga sudah saya dapatkan di Jakarta persis sebelum berangkat ke sini (kalo di Jakarta namanya English for Academic Purpose, selama enam minggu). Ini acara khusus buat students yang dibiayai oleh ADS kayak saya gini, asalnya dari Indonesia, Filipina, Taiwan, Negara-negara Afrika semacam Ghana, Sierra Lione, dsb.

Salah satu acara IAP adalah pengenalan mengenai budaya Australia. Nah, salah satu acaranya adalah upacara dalam rangka NAIDOC week. NAIDOC (singkatan dari National Aborigines and Islanders Day Observance Committee) kira-kira berarti acara untuk memperingati perjuangan suku asli Australia (Aborigin) dalam rangka keterwakilan mereka di cabinet dan juga dalam departemen khusus yang dibentuk untuk mengurus mereka. Yah kurang lebih untuk emansipasi lah, karena sebenarnya Australia tergolong ‘penjajah’ juga, karena pertama-tama dulu mereka didatangkan dari Inggris kemudian menyebar ke seluruh Australia menaklukkan Aborigin yang tadi.

Upacara bendera dalam rangka NAIDOC ini dilakukan di halaman kampus. Kalo dibandingin dengan upacara di Indonesia jelas kalah jauh. Barisan aja gak dirapiin, naikin benderanya juga asal-asalan, sambutan juga gak resmi….

Nah, abis upacara di kampus, lalu kami digiring ke pusat perayaan yang lebih besar di deket kampus. Acaranya selain naikin bendera, pidato, sambutan, melukis untuk anak, cat wajah, dsb juga makan gratis. Nah, ini yang ditunggu… Penasaran sama daging kanguru, maka kami pun ikutan mengantre. Kanguru sudah dipotong dalam bentuk sate tapi agak besar-besar (yang pasti lebih besar dari potongannya satekambing Kantil di depan masjid Pandowo Salatiga sana), terus ada sausnya juga.
Rasanya? Ya apa boleh buat ternyata daging kanguru rasanya biasa-biasa saja! Mirip sate rusa, kalo Anda sudah pernah mencobanya. Karena satenya rasanya biasa saja, saya mencoba yang berkuah mirip sate padang gitu. Rasanya tetep biasa saja, bahkan cenderung anyep karena kurang bumbu. Ya apa boleh buat, tapi lumayan minimal saya sudah pernah merasakannya dan juga seperti biasa sempet foto-foto juga. Oya, yang merah oranye itu adalah bendera Aborigin (yah, mirip-mirip bendera OPM Irian gitu deh!)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar