Kamis, 06 November 2014

Australia A to Z (Part 1)


A-Air panas

Ini rahasia lho ya, sejak saya datang tanggal 15 Juni 2010 sampai dengan saya pulang untuk selamanya ke Indonesia tanggal 1 Agustus 2014, setiap hari saya di Australi mandi pake air panas lho! Tidak peduli itu musim panas, dingin, semi, musim layangan, musim rambutan dsb. Maklumlah tinggal muter kran doang, gak perlu panggil si mbak untuk masak air buat mandi. Bahkan waktu sekolah di Amrik pun, sejak datang tanggal 16 Agustus 2001 sampai pulang 15 Mei 2003 (saya inget betul tanggal-tanggal ini), tiap hari saya mandi air panas. Abis enak sih!

B-Bintang Cafe

Favorit warung Indonesia di Perth. Wabil khusus lagi, mie ayamnya enak banget. Juga tempat beli makan kalo lagi males masak di rumah. Lokasinya deket rumah, cuma sekitar 3 km. Yang punya orang Indonesia yang kira-kira lebih muda dari saya (hebat ini orang!). Makanannya banyak jenisnya, termasuk nasi gorengnya juga cukup rekomended. Seporsi makanan kira-kira $10 harganya, termasuk minum teh kotak. Setiap makan di situ hampir dipastikan ketemu temen sesama Indonesia.

C-Cina

Hebat nih orang-orang Cina. Saya gak tau apakah mereka ini dari Cina daratan, Hong Kong, ataupun Singapore, yang pasti banyak banget pemilik usaha yang orang Cina di Perth. Misalnya salon menikur pedicur, toko koran, toko lotre, pulsa, warung makan, salon, di mana-mana pemiliknya orang Cina. Salut akan jiwa kewirasawastaan mereka!

D-Digital

Saluran TV di Australia sudah high definition dengan sinyal digital sepenuhnya, sehingga gambarnya sangat tajam. Waktu saya pulang ke Indonesia, ternyata masih banyak yang analog, sehingga gambar terasa tidak tajam. Kemudian saya melanggan tv swasta di Jakarta yang banyak saluran digitalnya, pas saya setel, gambarnya jauh lebih tajam dibanding sebelumnya, sehingga salah seorang kakak saya dengan polosnya bertanya: Ini tivi tiga dimensi ya? Padahal tv biasa, hanya sinyalnya yang digital!

E-English

Logat inggrisnya orang sini rada susah dimengerti, apalagi kalo orang lapangan yang ngomong. Si Aby suka marah kalo saya meniru logat orang Australi di rumah. Kalo di kampus mah orang ngomong inggris dengan baik dan benar sehingga gampang ditangkap. Coba Anda ngobrol sama kuli bangunan, dijamin gak akan nyambung!

F-Fish and Chips, Fremantle

Makanan favorit saya di Austalia, terutama di Cicerello atau Kaili’s di Fremantle. Kalo Anda berkunjung ke Perth, Anda wajib mencoba makanan tersebut. Kentangnya besar-besar dan renyah, kemudian ikannya juga segede-gede tampah, jadi terasa fish and chips beneran, bukannya fish-fishan. Dimakan cukup dengan tartar dan saos tomat. Biasanya favorit pesanan saya adalah seafood basket yang isinya bermacam-macam goregan hasil laut (udang, ikan, cumi) ditambah kentang goreng yang sangat renyah. Seprosi $21 bisa dimakan berdua. Sayangnya harga saosnya rada mahal, satu tempat kecil sekitar $4. Waktu makan rame-rame dengan keluarga atau temen, dengan tidak malunya kami bawa saos tomat dari rumah, maklum kalo di swalayan saos yang segede gambreng harganya cuma $1 dapet satu botol besar! Kedua restoran tersebut berada di lokasi yang sama, sebelah-menyebelah, dan persis di pinggir dermaga yang banyak kapalnya, dengan ditemani burung-burung camar terbang melayang. Persis kayak lagi makan di luar negeri rasanya!

G-Gold Coast

Tempat yang harus Anda kunjungi kalo lagi ke Australia. Mereka menjuluki dirinya sendiri sebagai ‘the theme park capital city of Australia’. Banyak banget yang bisa dinikmati: garis pantainya yang panjang banget dengan ombak yang bagus (yang paling terkenal adalah pantai Surfers Paradise), kemudian Sea World (cikal bakal yang di Ancol), Movie World, Wet ‘n Wild (saya udah ke sana) dan seterusnya yang lain (belum sempat saya kunjungi). Sebuah tempat yang sangat cantik, kayak Bali kita di Indonesia. Hotelnya juga gak terlalu mahal.

Rabu, 05 November 2014

Akhirnya ada bentuknya


Setelah mendapat titah bahwa saya harus menyelesaikan seluruh chapter secara bersamaan, saya segera bertindak. Mulailah chapter yang berserakan itu saya kumpulkan satu persatu dalam suatu master dokumen. Tentu saja segala sesuatu dibetulin dulu, misalnya referensi yang tanpa nomor halaman, diberi nomor halaman yang bener. Soalnya Prof bilang kalo kamu ada petikan dari karya orang, maka kamu harus cantumkan nomor halamannya. Nah, ini dia yang repot. Tadinya saya sering lupa mencantumkan nomornya. Terpaksa sekarang harus membuka kembali jurnal-jurnal yang dikutip, sambil melihat di halaman berapa petikan itu. Kebayang gak sih? Ini bisa makan berhari-hari lho, soalnya kan banyak kutipan di tesis saya.

Kemudian, yang bikin lama juga adalah membuat format yang seragam. Maklumlah waktu masih terpencar-pencar, banyak tabel yang ukurannya berbeda-beda baik ukuran hurufnya maupun format tabelnya (lebar kolom, tinggi baris dsb.). Berhubung sekarang sudah menjadi satu, maka tabel-tabel harus diformat ulang supaya enak dilihat, tinggi baris dibikin sama, ukuran huruf semaksimal mungkin sama dan juga lebar tabel diusahakan sama. Terus tidak lupa juga membereskan nomor tabel dan gambar biar urut dan juga membetulkan rujukan tabel. Misalnya ada kalimat yang menyatakan ‘bisa dilihat di Tabel 7’ misalnya karena sudah digabung dokumennya, maka kelimatnya menjadi ‘bisa dilihat di Tabel 8.4’ dan semacamnya. Ini juga kerjaan tersendiri. Yang juga tergolong rumit adalah penomoran. Misalnya yang tadinya nomor 7.2 menjadi 7.2.1 setelah dokumen digabung, atau menaik turunkan level heading (mungkin Anda sudah tau ini), atau mengoreksi daftar pustaka. Ini juga rumit lho, karena harus konsisten, kalau referensinya jurnal cara nulisnya gini, kalau buku cara nulisnya kayak gini, dst.

Akhirnya setelah kerja siang malam (eh, gak ding saya gak pernah lembur), mulailah itu barang nampak hasilnya. Menurut word count, naskah saya itu terdiri dari 284 pages, 92.834 words, 478.217 characters, 8.764 paragraphs dan 15.897 lines, terbagi atas 8 bab. Langsung saya jilid 2 biji, satu buat Prof, satu buat saya sendiri. Berikut penampakannya.


Begitu selesai, langsung saya kasih ke Prof (janjian di kafe, maklumlah dia sudah jobless, tapi masih boleh membimbing saya sesuai arahan universitas), dan saya langsung pulang ke Indonesia buat istirahat panjang (keluarga sudah saya pulangkan ke Jakarta secara permanen sebelumnya). Prof janji begitu dia selesai meriksa, dia akan email saya, dan saya akan segera meluncur ke Perth dari Serpong langsung.

Bagaimana rasanya kerjaan selesai? Susah dilukiskan! Bagaikan selesai menggali sumur lalu keluar airnya (halah!), atau bahkan kayak abis mindahin gunung. Empat tahun kerja keras gitu lho!

Mencicil kerjaan


Dalam beberapa kesempatan, profesor saya sesekali menanyakan kapan sih jatuh tempo thesis kamu? Jawaban saya juga tetap tidak berubah, dengan mantap saya bilang: 1 Agustus 2014 Prof! Mungkin sebenarnya dia itu mau nanya kok kamu belum setor-setor chapter sih, mana kok gak kelihatan hasil karyamu? Tapi dia selalu bilang, udah tenang aja kok kamu pasti akan selesai. Saya selalu beralasan ke dia: saya tuh nulisnya loncat-locat chapter Prof, jadi rada susah kalo saya setor satu per satu chapternya.

Sebenarnya dalam hati juga saya kok berat banget sih membuat chapter yang lengkap berikut referensinya yang lengkap. Maunya Prof saya itu adalah saya nyetor suatu chapter secara sudah benar dan betul, artinya itu udah final di tangan saya, bukan draft doang, termasuk referensi, format dsb, pokoknya semaksimal mungkin, nanti biar si Prof memberi masukan. Tapi ya itu dia yang bikin lama. Kadangkala tabelnya gak seragamlah formatnya, bahasanya masih belepotan, mengutip gak lengkap dengan referensi dan nomor halamannya dst, dan yang parah adalah saya sendiri gak begitu PD dengan tulisan saya apakah sudah layak PhD atau belum.

Parahnya lagi, bahkan di awal, Prof saya sudah memberi satu thesis punyanya mantan bimbingannya yang sudah lulus. Thesis itu memang sangat keren, milik seorang dosen di Malaysia sana. Saya bolak balik baca itu thesis, bahasanya bagus, pembahasannya smooth, dan terutama enak dibaca. Bolak-balik saya baca draft saya sendiri, kesannya kok jauh banget.

Tapi ya apa boleh buat, jatuh tempo tinggal dikit lagi, maka segera saya kumpulkan chapter yang berserakan di mana-mana itu menjadi sebuah karya yang utuh. Tapi sebelumnya, saya harus mikir taktik dulu nih, gimana caranya supaya Prof seneng dan gak banyak koreksian? Pikir punya pikir, saya majuin aja dua bab yaitu hasil kuantitatif dan kualitatif, sambil nunggu reaksinya. Segera saya setor dua chapter yang final (menurut saya) itu, sambil ngerapiin chapter-chapter yang lain.  Sengaja dua chapter itu, karena kan kalo ngajuin cuma hasil kuantitatif dan kualitatif, gak akan salah, wong cuma berdasar hasil riset doang, masak salah. Palingan yang salah ya format penyajiannya.

Setelah sedikit harap-harap cemas, setelah tiga minggu saya setor dua chapter itu, si Prof panggil saya. Kirain pertemuan akan panjang lebar membahas kesalahan-kesalahan saya, eh gak tahunya cuman sebentar. Cuman bilang ini salah dikit, itu tabelnya kebanyakan, ini seharusnya di situ. Pokoknya gitu doang deh. Lega saya rasanya, berarti saya gak salah dong! Terus saya nanya ke dia lagi: ini gimana Prof, saya betulin dua chapter ini terus disetor lagi, apa gimana? Dia jawab: udah kamu setor ke saya lagi aja kalo semua thesis kamu sudah selesai keseluruhan, dalam bentuk jadi, lengkap dengan lampiran, referensi, daftar pustaka, pokoknya produk final kamu. Ntar kalo sudah selesai kita ketemu lagi. Demikian titahnya. Dengan perasaan apa boleh buat saya jawab: Siaappp...

Dalam hati saya bertanya kenapa begitu, rupanya karena sejak Maret 2014 secara semena-mena Prof saya tiba-tiba diberhentikan oleh pihak Universitas! Lalu bagaimana nasib saya nih, bagai anak ayam kehilangan induk!

Hore, Dapat Dolar!


Entah mengapa, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sekolah saya, Curtin Business School, mengumumkan bahwa mulai tahun 2014, barang siapa berhasil menerbitkan papernya di jurnal, akan mendapatkan honor sesuai dengan kualitas jurnalnya. Kalau jurnal paling top, yaitu kelas A* dapetnya $1500, jurnal kelas A $750, dan jurnal kelas B $350.

Wah, ini jelas rejeki nomplok. Saya kan waktu itu masukin jurnal sekitar bulan Juli 2013. Begitu masuk ternyata kata redaksinya, perlu sedikit revisi , juga diharuskan diedit sama proofreader profesional. Okedah, saya laksanakan. Paper saya edit, terus dibaca sama proofreader tadi (btw, honor yang saya bayarkan untuk ngoreksi bahasa untuk jurnal ini yang sekitar 20 halaman banyaknya, adalah $480. Mahal ya? Untung dibayarin kantor), lalu saya masukkan kembali ke jurnal tadi. Saya tunggu terbitnya, ternyata baru terbit awal 2014. Pas, berarti sama dengan batas waktu dapet honor! Coba kalo tidak ada editan, maka artikel akan terbit tahun 2013 yang malah tidak akan dapat honor. (Catatan: asal muasalnya jurnal ini sebenarnya adalah salah satu bab dalam thesis saya. Abis saya buat bab itu, saya mikir kayaknya bisa nih dikirim ke jurnal siapa tau bisa dimuat. Profesor saya setuju, makanya saya kirim ke jurnal. Eh ternyata benar bisa dimuat. Memang kalo udah rejeki gak akan kemana!)

Segera setelah terbit, saya segera lapor ke panitia honor itu supaya dapat cair. Ternyata benar, saya dapet honor dan sekaligus senang karena ternyata saya diucapin selamat oleh panitia lewat milis para students PhD biar semua orang tahu. Ini emailnya:

Dear All,

I am delighted to advise that the paper of one of our CBS PhD students, Budi Susila, has just been published in the Australian Tax Forum (ERA & ABDC Ranked A). The paper, entitled Why the tax compliance costs of large companies in Indonesia are low compared to other countries: Empirical evidence, was co-authored by Budi with his Supervisor, Prof Jeff Pope.

Congratulations, Budi and Jeff, on getting your paper published in a high quality journal!

Best regards,
Panitia


Bukan itu saja, rupanya nama saya juga dicantumkan di papan pengumuman white board di sekolah. Lumayan, jadi agak ngetop dikit (selain dapet $750 tentunya!). Ini penampakannya:


Selasa, 04 November 2014

Banjir di Negara Maju


Setelah jalan-jalan muter-muter Brisbane yang gak begitu bagus, akhirnya tibalah saatnya untuk pulang ke Perth. Entah mengapa hari itu Brisbane hujan gede banget dan lama. Saya yang habis main dari rumah temen di daerah situ, terus nyegat taksi mau ke bandara di tengah hujan deras. Baru keluar jalan, langsung jalan macet. Terpaksa taksi muter jalan lain. Jalannya kalo istilah Jakarta ‘padat merayap’, tapi sebenarnya lebih dari itu. Berhenti lama banget, jalan sebentar, berhenti lama lagi. Sopir taksinya bilang ‘banyak jalan ditutup Pak, jadi kita muter’. Rupanya beberapa jalan tergenang banjir sehingga jalan ditutup (dalam hati langsung seneng, ternyata di Australi ada banjir juga—dasar mental inlander!). Padahal itu jam pulang kantor di mana kendaraan tumplek blek! Saya udah putus asa aja nih, nyampe gak ke bandara tepat waktu?

Nah, rupanya ada bedanya banjir Jakarta sama Brisbane! Karena waktu itu banyak jalan tergenang, mobil kan pada muter-muter gak karuan, akibatnya terpusat pada jalan yang agak tinggian. Masalahnya, banyak lampu merah pula, sehingga setiap lampu ijo nyala palingan cuma dua tiga mobil yang bisa lewat. Bisa dibayangkan dong kacaunya lampu merah? Eh tapi tunggu dulu! Ini Australi gitu lho. Walaupun jalan lagi padat-padatnya, orang tetap tertib lho! Jadi di sini kalo pas lampu ijo giliran kita jalan, kalo di depan kita gak memungkinkan mobil kita ngelewatin persimpangan, walau lampu ijo kita tetap harus berhenti nunggu sampai ada space buat kita (ya logikanya di Indonesia, kalau nyebrang rel terus depan kita gak muat, maka kita akan berhenti sebelum rel nunggu ruangan kosong). Yang membuat saya kagum, semua orang masih tertib, walaupun lampu ijo kalo depannya gak cukup, mereka berhenti dulu. Jadi waktu arus lawan giliran lampu ijo, mobil tidak akan tersumbat di tengah persimpangan. Bayangin kalo Jakarta, pasti udah mampet di persimpangan kayak gitu karena asal udah ijo, pasti mobil pada jalan walaupun di depannya terhalang. Akibatnya malah gak ada yang bergerak!

Setiap saya lewat lampu merah, saya stres aja takut ketinggalan pesawat. Tapi ternyata di semua lampu begitu, semua tertib. Jadinya, walaupun sangat tersendat tapi tetap jalan karena lampu merah gak ada yang mampet!

Jadi memang, walaupun sama-sama banjir, tetap ada bedanya negara maju sama negara berkembang!

Epilog: akhirnya saya nyampai juga di bandara tanpa ketinggalan pesawat. Jarak 35 km akhirnya ditempuh dalam waktu 3 jam. Dan Anda tau berapa bayar taksinya? Cuma $146 sodara-sodara alias nyaris satu setengah juta perak! Tarif taksi termahal yang pernah saya bayar seumur hidup saya!

Pura-pura Gak Lihat


Ceritanya saya lagi mau mempresentasikan riset saya di konferensi yang kedua, kali ini di Brisbane, negara bagian Queensland, kira-kira empat jam terbang dari Perth. Seperti yang pertama, panitia juga gak ada perlawanan, langsung menyetujui bahwa saya boleh presentasi di konferensi mereka. Sekali lagi, kalo ada orang yang mengesankan (atau menakut-nakuti, atau meninggikan mutu sendiri) terus bilang ‘susah lho masukin paper ke konferensi’ kayaknya gak betul, wong dua kali saya daftar, dua-duanya diterima tanpa perlawanan. Jadi presentasi begitu saya bilang biasa aja sih, tidak perlu terus masukin email panitia ke status FB segala...

Seperti biasa, konferensi dimulai dengan pembukaan pleno, dengan sambutan dari beberapa orang penting yang sesuai adat bule, dimulai tepat waktu dan sambutannya singkat-singkat. Abis itu seperti biasa pula, diadakan parallel sessions, yaitu dua atau tiga sesi diselenggarakan bersamaan di ruang yang berbeda, terserah para peserta mau milih di ruangan mana dan topiknya apa.

Kebetulan, saya akan tampil di sesi siang hari pertama. Kalau sesi awal gini enak nih, jadi hari kedua sama ketiga saya tinggal nyantai gak mikir presentasi, tinggal milih topik yang ingin dihadiri, atau tinggal jalan-jalan keliling Brisbane gak usah ngikut konferensi hari kedua dan ketiga, toh pak Prof gak tahu ini. Dulu di konferensi pertama saya di Auckland, saya tampil di sesi siang hari terakhir, sehingga rasanya mules terus di hari pertama dan kedua!

Abis makan siang, saya segera masuk ke ruang dimaksud. Hm, kali ini agak lebih banyak hadirinnya, barangkali sekitar 20; bandingkan dengan konferensi pertama saya yang penontonnya yang cuma sekitar sepuluh! Muka-muka lama di bidang riset saya pada nongol nih, para profesor yang banyak saya baca namanya di jurnal-jurnal. Di antara para pesohor itu ternyata nongol calon penguji thesis alias examiner saya yang perempuan, sebut saja Ibu A. Si Ibu profesor ini lumayan ngetop, bukunya banyak dan artikel jurnalnya di mana-mana. Waktu konferensi pertama dulu, saya sudah sowan ke Ibu ini, memperkenalkan diri bahwa saya lagi riset bidang ini, saya anak didiknya profesor ini, dan sebagainya; waktu itu saya belum tau bahwa beliau adalah calon examiner saya. (Catatan: sebenarnya penunjukan dia sebagai penguji saya ini rahasia, saya gak boleh tau. Tapi berhubung pak prof sudah lapan-enam sama saya, jadi saya tahu). Etik di kalangan PhD students menyatakan bahwa seorang student tidak boleh berkomuniasi dengan calon examinernya, karena kan aneh masak student nanya-nanya sesuatu ke pengujinya!

Jadi saya harus bagaimana nih? Saya harus say hello atau gak nih, ntar dikira sombong! Dia kan hadir di ruangan ini karena tahu bahwa saya akan presentasi (kan ada di program acara yang dibagikan!). Tentunya dia juga mau tau ‘kayak gimana sih anaknya yang mau saya uji disertasinya ini’. Saya kebetulan duduk di tengah, dan dia saya lirik ada di baris terakhir. Tapi di pihak lain saya juga ingat etika gak boleh ngobrol sama examiner tadi. Akhirnya saya putuskan ‘ya sudahlah saya pura-pura gak tau’.  

Akhirnya saya presentasi riset saya tersebut dengan rada lancar (maklum udah yang kedua). Beberapa pertanyaan saya jawab dengan baik (menurut saya lho ya!). Si Ibu itu juga nanya dan saya jawab juga dengan baik (sekali lagi menurut saya!). Sampai sesi selesai, saya gak ngobrol sama Ibu itu!

Ya sudahlah yang penting tugas selesai dan saya jadi lega. Saatnya jalan-jalan muter Brisbane di hari kedua dan ketiga (yang akhirnya rada mengecewakan karena ternyata ‘biasa-biasa aja’ kotanya).

Jumat, 17 Oktober 2014

Nemu Plagiarisme


Anda masih ingat kan apa itu plagiarisme? Ini adalah istilah di dunia ilmiah untuk ‘pencontekan’. Artinya orang yang menulis sesuatu harus orisinil dari dia, kalo dia menulis buah pikiran orang lain, maka dia harus sebutkan sumbernya. Masalah plagiarisme ini serius lho, bahkan di Indonesia pun. Gak percaya?

Kira-kira dua tahun lalu terdapat seorang profesor jurusan hubungan internasional yang terkenal di sebuah universitas di Jawa Barat (nama profesornya dan nama universitasnya saya lupa). Dia menulis sebuah artikel opini di Jakarta Post. Nah, rupanya ada seorang pembaca yang mendapati bahwa terdapat sebuah paragraf di tulisan dia yang merupakan gagasan orang lain, dan si profesor ‘lupa’ mencantumkan sumber tulisannya. Setelah terjadi korespondensi di antara penemu dengn penulis, akhirnya si profesor tidak bisa mengelak lagi. Entah bagaimana kasus ini menjadi besar dan menjadikan dunia akademis Indonesia geger. Singkat cerita, si profesor akhirnya dicopot gelar profesornya, dan kalo gak salah dia juga diberhentikan dari tempat kerjanya. Bayangin, gara-gara satu paragraf!

Kasus kedua, menyangkut seorang profesor top dari universitas top di Jawa yang juga pejabat tinggi di suatu departemen (saya ingat namanya dan nama universitasnya, tapi silakan cari sendiri deh di gugel!). Nah pada suatu si profesor yang juga pejabat tinggi ini menulis artikel opini di harian Kompas. Kejadiannya sama, seseorang mendapati bahwa beberapa bagian dari tulisannya ternyata sama dengan tulisan orang lain di bagian dunia lain. Si profesor juga ‘lupa’ menyebutkan sumbernya. Kasus ini juga menjadi geger, dan beliau pun diharuskan melepaskan gelar profesornya, setelah diwacanakan agar dia disidang di rapat etik dewan guru besar di univeristasnya.

Lalu apa hubungannya saya sama plagiarisme ini? Gak ada sih, cuman saya kemarin secara tidak sengaja menemukan sebuah kasus ini. Ceritanya begini, saya waktu itu lagi nyari-nyari artikel tentang pemasaran (marketing) yang dilakukan oleh departmen pajak di negara-negara lain. Nah saya menemukan sebuah laporan dari Asosiasi Administrasi Perpajakan di Eropa (IOTA). Saya baca dan pelajarilah laporan dari konferensi mereka itu. Dokumen ini bertahun 2009.

Kemudian, saya dapat satu artikel lain, kali ini ditulis oleh dua orang, yaitu seorang dari universitas X di negara Albania dan seorang pejabat di Departemen Pajak negara yang sama. Isinya mengenai marketing di departemen pajak negara itu. Eh, pada suatu paragraf saya baca kok rasanya ini paragraf pernah saya baca di tulisan yang IOTA terbitin itu ya? Saya banding-bandingin, eh iya emang mirip banget! Dokumen yang kedua ini bertahun 2011, berarti patut diduga ini mencontek yang tahun 2009. Saya liat di tulisan kedua, gak disebutkan sumbernya! Wah gawat nih!

Ini nih perbandingannya:

Tulisan pertama:

DEFINITION OF MARKETING IN A TAX ADMINISTRATION

First of all, tax administrations have a number of special features that do not apply to private companies. The services we offer are very often compulsory. We have a public mission we have to fulfil – safeguarding public funds – we are also a monopoly. Moreover our core business is not a very popular one: enforcing and collecting taxes. In doing this, we are serving both citizens and society, and we have to explain that their interests are not necessarily opposite. Citizens have to submit their tax file and pay taxes. We can also apply sanctions if they do not – that is part of our product. Our ‘customers’ have many interests: they know that society needs an income to insure that government, education, social security, etc. are well functioning. Amongst others they have a sense of civics that makes them compliant with reasonable rules. They also do not like to be punished for transgressing these rules.

Ini tulisan kedua:

MARKETING IN A TAX ADMINISTRATION

Tax administrations have a number of special features that do not apply to private companies. The services they offer are very often compulsory. Tax administration has a public mission to fulfill – safeguarding public funds – it is also a monopoly. Moreover its core business is not a very popular one: enforcing and collecting taxes. In doing this, it is serving both citizens and society, and that their interests are not necessarily opposite. Customers have many interests: they know that society needs an income to insure that government, education, social security, etc. are well functioning. Amongst others they have a sense of civics that makes them compliant with reasonable rules. They also do not like to be punished for transgressing these rules.

Nah Anda bisa liat kan? Tulisan kedua sama persis dengan tulisan yang pertama. Mereka cuma mengganti ‘we’ dalam tulisan pertama menjadi ‘tax adminstration’. Tulisan yang lain boleh dibilang 95% sama. 

Kesimpulannya: patut diduga ini adalah pencontekan, karena tulisan kedua tidak menyebutkan sumbernya.

Lalu apa yang harus saya lakukan? Tadinya nyaris saya mau mengemail si penulis kedua, mau nanyain kok tulisanmu rada plagiat gitu sih? Tapi setelah itu saya pikir-pikir, kok saya kurang kerjaan amat, belum tentu saya lebih baik dari dia! Takutnya si penulis itu ntar dipecat dari sekolah atau yang satunya malah dipecat dari kantor pajak Albania sana, terus saya merasa bersalah gimana? Akhirnya saya urungkan niat mengkonfrontir mereka, dan saya tuangkan aja di blog ini.

Kalau Anda jadi saya, apa yang Anda lakukan?