Minggu, 31 Agustus 2014

Ojo gumunan: Imigrasi

Kalo ada suatu institusi yang istri saya paling 'benci' ya satu ini: Imigrasi Australia! Ceritanya panjang, bermula dari permohonan visa dia (dan Aby) ke Australi untuk menemani saya. Waktu itu permohonannya lama banget prosesnya, gara-gara katanya ada bekas luka di paru-paru istri saya tersebut. Setelah melalui pengecekan selama nyaris dua bulan dengan bolak-balik ke dokter yang ditunjuk di Jakarta, keluarlah itu visa. Tapi ini visa bukan sembarang visa, melainkan diembel-embeli dengan sayarat bahwa istri saya harus dateng ke klinik paru-paru yang sudah ditunjuk Imigrasi di Perth sini setiap enam bulan sekali untuk difoto ronsen. Sebagai warga taat hukum, kami melakukan pemeriksaan tersebut beberapa kali sampai kira-kira udah empat kali baru dinyatakan 'klir' sama itu klinik, dan kata mereka gak usah balik lagi. Lega dong kami?

Ternyata walaupun sudah dinyatalan klir sama klinik, tetep aja di imigrasi bandara istri saya selalu bermasalah. Gak peduli dia mau balik ke Indo maupun dateng lagi ke Perth, setiap abis melalui pintu imigrasi, selalu dia disuruh menghadap dulu sama petugas imigrasi khusus yang bukan di pintu imigrasi. Dan selalu ditanya-tanya mengenai paru-parunya, dan selalu dijelaskan bahwa statusnya sudah klir. Begitu terus, jadinya tiap masuk bandara Perth selalu menjadi penumpang terakhir yang ngambil tas bagasi, yang lain udah beres pulang semua. Kebetulan saya jarang pulang bareng istri ke Indo jadi detil pertanyaannya saya gak tau, tapi yang pasti istri saya kesel banget kenapa selalu dimasukin ruang khusus padahal status udah gak masalah.

Nah, kemarin dulu, kebetulan saya sekeluarga baru pulang dari Jakarta, saya baru ngalamin peristiwa ini. Jadi pas mau masuk pintu imigrasi, si petugasnya bilang kami harus ketemu dulu sama bosnya. Nah, rupanya begini toh ceritanya. Si bos imigrasi bilang ke istri saya 'data kamu gak ada nih di komputer, jadi kamu gak bisa masuk ke Australi'. Tentu saja istri saya kaget! Lha, itu paspor udah dicap keluar masuk ke Perth bolak balik kok gak masalah? Si petugas tetep gak ngijinin, sambil berkeras 'pokoknya datanya gak ada di komputer' (mulai keluar jurus 'pokoknya'). Lha tentu saja istri saya tambah kesal, terus bilang 'telpon aja tuh klinik, tanyain ke sana apa saya bermasalah'. Mereka mencoba telpon, tapi rupanya klinik udah tutup karena udah di atas jam 17. Saya mulai jengkel, saya bilang 'ini kami udah rutin ke klinik dan dinyatakan klir, kalo gak ada di komputermu ya bukan masalah kami' kata saya dengan rada keras. Eh, si bule malah ngancam 'hey, saya bicara sama istri kamu, kamu gak usah ikut-ikutan!' Waduh, kok gitu caranya. saya tambah kenceng ngomong: 'Lha itu kan bukan salah saya kenapa data gak ada di komputer, kan kliniknya punya pemerintahmu juga, kenapa kami yang bermasalah'. Eh, si bule keluar katroknya bilang: kamu gak usah ngomong, sekali lagi ngomong saya usir kamu!' Idih, kampungan amat!

Akhirnya, setelah si imigrasi diskusi sama temen-temennya, barulah istri saya boleh masuk ke Perth, tapi tentu saja ditambah ancaman: 'ini dalam waktu seminggu kamu harus nelpon ini untuk mengklirkan masalah (sambil diberikan nomer telpon departemen imigrasi), kalo dalam waktu seminggu kamu gak telpon, kamu bisa diusir dari Australi!' Sambil ngomel-ngomel kami segera pulang dengan badan capek dan emosi tinggi!

Besoknya sesuai dengan yang disuruh, saya yang kebagian nelpon. Dan tahukan Anda bahwa nelpon di sini itu sulit nyambung? Nelponnya sih gampang, tapi sampai terhubung ke orang beneran sulitnya minta ampun! Percaya deh, costumer servive di Indonesia jauh lebih bagus dalam hal ini. Pertama, nomor telepon diputer, terus sama mesin penjawab dikasih beberapa alternatif, nomor sekian untuk urusan visa, nomor sekian untuk paspor dsb. Itu step udah saya ikuti semua, akhirnya setelah kira-kira masukin lima kali pilihan, barulah ada orang yang menjawab (lain kali akan saya tulis masalah telpon ini di entri lain!). Setelah dijelaskan, sama si orang, dilempar lagi ke orang lain, kemudian dilempar lagi, akhirnya malah kembali ke menu awal, jadinya masalah gak selesai-selesai! Besoknya saya coba laigi, kejadina yang sama terulang kembali. Begitu terus udah tiga hari dicoba belum beres-beres juga!

Karena lewat telpon gagal, terpkasalah kami ke Kantor Imigrasi betulan yang ada orangnya! Letaknya kira-kira 10 km dari rumah. Sampai di kantor imigrasi, antre sebentar lalu ketemu petugasnya. Kasus dijelaskan ke dia. Eh, tahukan apa jawabnya? Wah, kalo masalah begitu bukan bagian kami, telpon aja di nomor ini (sambil memberikan suatu nomor)! Lha apa gak gondok coba, udah pergi di kantor imigrasi, ketemu petugasnya, eh, malah disuruh menelpon ke nomor yang dulu diberikan oleh petugas imigrasi bandara. Lha orang ini apa gunanya? Segera kami jelaskan bahwa kami udah nelpon kemarin dulu, gak ada hasilnya. Si petugas kantor tetep berkeras 'kamu tetap harus nelpon nomor itu'. Weleh-weleh...

Dengan perasaan dongkol setengah mati, kami telpon nomor itu. Rupanya di kantor imigrasi itu ditaruh beberapa telpon, yang gunanya untuk nelpon kantor imigrasi! Aneh gak sih, udah di kantor imigrasi, ketemu orang imigrasi, eh tapi malah disuruh nelpon kantor imigrasi! Kejadian yang sama terulang, pencet nomor, ditanya sama mesin, tujuan apa, dst seperti kalo nelpon sendiri. Kembali dilempar ke beberapa orang, kemudian terakhirnya kembali lagi ke menu awal. Begitu terus, kira-kira abis waktu sekitar satu jam untuk mendapatkan clearance lewat telpon itu, dan nyatanya emang dinyatakan 'kamu gak ada masalah kok'. Cape deh...

Setelah klir, akhirnya kami pulang, dan ya emang begitu doang. Gak ada masalah apa-apa. Sampai sekarang saya masih heran kenapa komputer klinik gak nyambung sama komputer bandara, dan kenapa kesalahan ditimpakan ke kami untuk membuktikan ketidakmasalahan kami. Malah instri saya bersumpah bahwa dia tidak akan kembali ke Australi lagi selamanya! Gawat kan? Untung sekolah saya udah mau selesai!

Senin, 16 Juni 2014

Ini yang Katanya Producitivity

Waktu saya dulu kuliah di Amrik, saya dapet ilmu baru yang namanya produktivitas, Penjelasannya begini: mengapa gaji pegawai di negara maju besarnya berkali-kali lipat disbanding gaji di negara berkembang? Jawabannya adalah produktifitas. Artinya dalam satu jam mungkin pegawai di Negara maju berhasil menyelesaikan tiga perkerjaan, sedang di Negara maju cuman bisa menyelesaikan satu pekerjaan, karena malah pada ngobrol atau main facebook kalo lagi kerja. Masuk akal juga ya? Cuman sampai sekarang saya belum ketemu jawaban mengapa gaji sopir taksi di Amrik lebih tinggi dari gaji sopir di Indonesia, padahal produktifitas paling sama aja, sejam bisa mengantar tamu sepanjang 50 km, misalnya.

Berkaitan dengan ini saya kemarin mengalami sendiri. Mungkin Anda sudah tau bahwa kalo seseorang mau habis kontrakan apartemen dan tidak diperpanjang lagi, kondisi apartemen waktu dikembalikan harus bersih mengkilap seperti sedia kala, gak boleh ada satu noda pun, baik di karpet, di lantai, ataupun kamar mandi. Nah, saya kan udah mau pulang nih (tepatnya keluarga saya yang pulang, saya mah masih bolak-balik Jakarta Perth menyelesaikan tesis). Saya liat kok apartemen saya rada berantakan dan kotor. Mau saya bersihkan sendiri nanti malah gak sesuai standar, maklumlah agen property saya orangnya reseh, daripada udah saya kerjain terus dia bilang kurang ini itu dan saya harus bayar lagi kan repot.

Segera saya telpon perusahaan cleaning service. Tentunya yang sudah diaaprove sama si agen, kalo gak ya sama aja ntar dia gak mau terima. Ternyata taripnya mahal banget yaitu $120 per jam. Bisa banyangin gak Anda, bersihin rumah bayarnya lebih dari satu juta per jamnya? Ini perjam lho ya,bukan seharian. Tapi ada boleh buat gak ada pilihan lain. Saya nanya ke dia: ngerjain apartemen dua kamar berapa jam ni Pak? Dia jawab: wah gak tau, tergantung tingkat kekotorannya. Waduh!

Tepat pada jam yang dijanjikan (ingat: di sini perusahaan cleaning service pun datang tepat waktu sampai menit-menitnya!), mereka datang. Ternyata mereka jumlahnya bertiga, bule suami istri sama satu orang lagi. Pantesan taripnya $120 per jam, berarti sejamnya $40 per orang, masih wajar lah (walaupun ini sama dengan tariff saya selaku research assistant di kampus. Opo tumon, gaji cleaner = research assistant?).

Setelah bersapa 'how are you', tanpa basa basi, mereka langsung berbagi tugas. Si ibu ngebersihin kamar mandi, si bapak lantai dan rumah, si satu lagi kebagian dapur. Mereka kerjanya cepet banget. Sret..sret..sret..srok.srok..srok...tidak ada yang ngobrol mereka itu, bekerja dalam diam dan ngebut. lantai dipel, toilet disikat, sarang laba-laba disapu, kompor digosok, sink disikat mengkilap, jendela di lap dst. Sementara saya klekaran di kamar sambil browsing di ipad, dan sedikit nggaya: kapan lagi ada tiga bule ngebersihan rumah saya! Dalam hati saya mikir, berapa jam ya mereka selesai, soalnya ya itu tadi tarifnya lumayan!

Dengan tetap tidak ngobrol apapun mereka kerja. Saya bayangin kalo orang Indonesia yang kerja, mungkin bapaknya sambil siul-siul atau ngrokok tengok sana tengok sini sambil ngobrol sama istrinya. Atau si istri nggosok kamar mandi pelan-pelan sambil nyanyiin lagunya Mulan Jameela, toh bayarnya berdasar jam ini! Atau asisten satu lagi sambil dengerin headphone lagunya Rhoma Irama!

Tepat dua jam kemudian, kerjaan beres. Saya liat kamar mandi udah kinclong, lantai udah bersih, dapur udah mengkilat, jendela dan pintu udah bersih seperti sedia kala! Wah hebat nih tiga orang, professional banget! Dengan rela, saya bayar mereka $240! Bayangin dua juta setengah buat bersih-bersih rumah!

Ternyata itu toh produktifitas!

Koboi Kanguru

Lama-lama saya tinggal di sini, saya makin meresapi tingkah polah orang Australia (mungkin kalo digedein lagi: tingkah polah orang di negara maju). Salah satunya adalah mereka orang yang taat hukum (masih ingat cerita gelandangan yang dulu?). Konsekuensi dari hal itu adalah mereka menuntut haknya dengan cukup serius; kalo ada yang melanggar hukum, mereka akan marah sekali (ingat cerita klakson dan balap sepeda?).

Nah, semalem saya mengalami kejadian 'horor', tapi untunglah bukan saya pelakunya atau korbannya. Sehabis menyantap makan malam mi ayam di warung favorit saya, yaitu Bintang Kafe, saya mau pulang dan kembali ke parkiran. Waktu saya di dalam mobil, saya liat ada sebuah jip besar, kayaknya Toyota Prado, yang mau keluar dari rumahnya. Rupanya driveway (catatan: buat mbah-mbah di Ngablak sana saya kasitau ya bahwa driveway adalah jalan mobil menuju rumah dari jalan besar. Jadi jalannya cukup buat satu mobil doang) orang itu terhalang oleh mobil orang lain yang parkir. Harus diakui bahwa penerangan di situ rada-remang-remang, bahkan saya aja kalo lagi makan hampir-hampir parkir di driveway itu saking gelapnya. Si pemilik sedan barangkali gak tau bahwa dia parkir di driveway orang.

Nah saya liat si pemilik Prado ini kayaknya marah, tapi saya gak liat mukanya, kan malem, dan dia ada di mobil. Dia berhenti sebentar tepat di depan mobil yang melintang itu, lampu nyala, mungkin nungguin pemilik mobil datang. Eh, tidak ada yang nongol. Tiba-tiba si mobil besar ini mundur sejenak, kemudian ditabraknya mobil penghalang itu, gubrak, bumper Toyota melawan body samping sedan penghalang! Waduh, saya kaget, gile bener nih orang. Kemudian dia mundur lagi dikit, ditabrak lagi, gubrak lagi! Yang ketiga dia mundur lagi, sedikit belok, dia tabrak lagi, kali ini di bagian bumper kiri, sehingga mobil penghalang itu bergeser. Akhirnya si Toyota berhasil keluar dari driveway-nya, langsung ngacir ke tujuan! Wah serem kayak di film. Saya bayangin pemilik sedan yang lagi makan malem itu gak tau. Pas nanti dia keluar, baru akan liat sedannya udah penyok!

Ini baru koboi!

Sebuah Rekor?

Kalo saya pikir-pikir, saya itu di kampus kayaknya pegang rekor lho, yakni mahasisa PhD yang tidak pernah lembur di kampus! Jadwal saya itu tiap hari di kampus buat nulis adalah berangkat jam 8.30 pagi, sama dengan si Aby berangkat ke sekolah, kemudian pulang lagi jam 14.30 (makan siang di kampus). Tiap hari begitu, gak pernah saya lembur malem-malem ke kampus. Apalagi kalo weekend, tambah gak mungkin lagi. Denger-denger, banyak juga temen Indonesia yang sampai nginep segala di kampus buat nulis. Wah hebat nih, biar tesisnya bagus, nilanya A semua! Kalo saya mah targetnya gampang aja, lulus! Nilai gak penting! Kalo kebetulan saya ke kampus weekend bareng si Aby anak saya, itu tujuannya bukan mau nulis tesis, tapi mau download game di Ipad-nya, maklum gak ada Wifi di rumah. Nah walaupun weekend, banyak juga ternyata mahasisa PhD pada dateng di kampus. Wah hebat-hebat nih orang!
 
Selain rekor itu, ternyata terakhir ini saya juga pegang rekor sebagai satu-satunya PhD student yang namanya jadi nama piala. Tidak percaya? Lihat gambar berikut:
 

Apaan tuh? Itu adalah poster perebutan Budi Susila Cup (kalo Anda lupa nama saya Budi Susila, hehehe). yakni pertandingan bola yang diprakarsai temen-temen Aipssa,dengan saya yang nyediain pialanya, dalam rangka perpisahan saya yang udah mau selesai sekolah. Aipssa itu adalah Assosiation of Indonesian Post Graduate Students and Scholars in Australia, di mana saya pernah menjadi ketuanya Cabang Curtin University. Nah berhubung tim bola ini saya turut membidani kelahirannya, menjadi kaptennya, dan lalu menjadi manajernya, maka mereka membuat turnamen perpisahan itu. Tim bolanya sendiri saya yakin juga membuat rekor, yakni satu-satunya tim bola pelajar di luar negeri yang mendapatkan sponsor, yakni Garuda Indonesia, apa gak hebat? Liat aja seragamnya yang keren itu!
 
Yah begitulah, sekali-kali narsis!

How about NOT inspiring?

Berkat blog ini, saya banyak mendapat email dari pembaca, biasanya sih bertanya mengenai berbagai hal, misalnya cara-cara mendapatkan beasiswa, terus mengenai sekolah anak-anak di Australia, terus mengenai pajak di sini dan seterusnya. Beberapa malah sudah saya unggah di blog ini kalo saya rasa bisa bermanfaat buat yang lain (tentunya nama pengirim disamarkan).

Kebanyakan, mereka memulai email dengan ucapan: Terima kasih Pak Budi, saya membaca blog Bapak dan blognya bener-bener memberikan inspirasi, blablabla...

Pertama-tama, saya paling geli kalo di email dipanggil 'Bapak', kok kesannya saya ini tua banget. Mbok ya 'mas' aja gitu lho, biar saya nampak mudaan, atau 'Bang' (tapi kok gak cocok ya sebagai orang Jawa tulen), atau 'Kak' (apalagi ini, 'kak' bukannya buat perempuan yak?). Ya pokoknya gitu deh, jadinya kok formal banget, saya kan anak pantai suka santai...

Yang kedua, banyak yang bilang blog saya 'inspiratif'. Wah, ini kejauhan, kok kesannya saya ini motivator. Mungkin maksudnya 'informatif' kali ya? Soalnya saya merasa gak berniat untuk menginspirasi orang, wong cuma buat main-main aja, siapa tau bermanfaat.

Nah, ngomong-ngomong 'inspiratif' katanya blog saya memberikan semangat buat orang mencari beasiswa. Kalo memang demikian, gimana kalo sekarang saya kasih fakta yang TIDAK 'inspring'? Sengaja pos ini ditulis di bagian akhir (saya kan udah mau selesai nih!), supaya jangan langsung pada patah semangat! Terus, apanya yang tidak inspiring?

Saya kasih tau ya bahwa sebenarnya beasiswa di mana-mana itu duitnya gak cukup buat hidup! Tak percaya? Tanya aja pada penerima beasiswa ADS atau apalagi Dikti yang nominalnya sedikit (atau agak banyak ya?) di bawah ADS. Lha gimana mau cukup, saya tiap dua minggu terima $1150 beasiswa, terus bayar sewa apartemen seminggu $350 alias $700 per dua minggu. Sisanya $450 buat hidup sekeluarga dua minggu dengan istri dan satu anak 11 tahun. Buat belanja mingguan, bensin, makan di luar, bayar karate anak, listrik, telpon, air hayo, apalagi kalo sewanya rumah, bukan apartemen, minimal $400 seminggu alias $800 per dua minggu. Sisanya cuma $350 per dua minggu (belum kalo beasiswanya Dikti dari pemerintah RI yang kita cintai ini). Nah, mulai 'not inspiring' kan?

Itulah makanya penerima beasiswa di Australi sini kerjanya banting tulang! Dan setelah saya amat-amati, semuanya pada kerja part time! Kecuali kalo yang sekolah yang perempuan, maka suaminya lah yang memeras keringat! Terus kerjanya apa? Sebagian kecil (banget) kerja fromal kayak jadi teaching assistant (beberapa temen saya) atau research assistant (kayak saya) atau kerja di perpustakaan kampus. Yang sebagian besar lagi ya kerja otot (ini malah lebih gampang, karena gak pake mikir dan gak pake ngobrol), misalnya petugas kebersihan (cleaner) atau tukang anter koran atau junk-mail. Yang paling banyak berdasar riset saya yang tidak ilmiah, adalah kerjaan cleaning! Kalo saya liat di Perth ini sekitar 80% pekerjaan para student dan suami student (kalo yang sekolah adalah istrinya) ya jadi cleaner itu! Saya pun demikian, ini buktinya:


Kerjaannya gampang:setelah sekolah (kantor) usai, meja dilap terus lantai divakum, kantong sampah diganti, gitu doang! Bayarannya, lumayan sejamnya dapet $20. Saya kerja kayak gini juga, sehari tiga jam, alias seminggu 15 jam, alias $300 alias $600 per dua minggu (saya itungin sekalian biar puas!). Nah, jadinya lumayan kan? Lumayan capek masud saya! Plus ditambah gaji research assistant yang $40/ jam (jam kerja gak tetep tergantung orderan si bos), jadi deh saya punya duit buat beli beras!

Usut punya usut yang hobinya jadi cleaner ternyata bukan mahasiswa di Perth aja tapi ternyata menyebar ke semua student Indonesia di lain kota kayak Melbourne (temen saya ada), Brisbane (temen saya gitu juga). saya tebak juga di Sydney dst. Pokoknya bermodal otot kawat tulang besi!

Nah, cukup un-inspiring bukan cerita saya ini? Jadi Anda masih mau apply beasiswa?

Senin, 21 April 2014

Kisah Sebuah Topi

Sejak saya mendarat di Australia, saya penasaran sekali pingin punya topi khas orang sini, yaitu yang mirip topi koboi. Itu lho yang dipakai di film Crocodile Dundee. Kayak gini nih penampakannya:


Tapi tentu saja minus gigi buaya di pinggirnya, emangnya saya cowok apaan?

Cari punya cari di internet, rupanya terdapat beberapa macam jenis dan harganya. Yang paling top adalah jenis/merk Akubra, yang kayak gini nih:


Tapi saking kerennya harganya mahal banget, sekitar $120. Masak mahasiswa kere macam saya beli topi seharga di atas satu juta perak? Gak mungkin lah!

Akhirnya saya cari yang KW-nya, tapi tentu saja yang terbuat dari kulit asli. Rupanya merk kelas duanya banyak, misalnya merk Barmah atau Jacaru. Nah ini rada mendingan nih, harganya di bawah $75.

Langsung saya cari-cari sekitar Perth sini ,berapa harganya. Mau beli lewat internet kan gak mungkin, gimana ngepasin size-nya? Saya selidiki pelan-pelan di sekitar City. Wah, rupanya masih mahal-mahal, sekitar $60-$70, paling murah $59! Masih di luar jangkauan saya nih!

Akhirnya waktu ke Melbourne tahun lalu, sampailah saya di Queen Victoria Market, itu lho pasar tempat jualan suvenir paling top sak Melbourne. Eh, dasar rejeki, saya dapet topi ini, merknya Barmah:



Harganya, lumayan, kalo di internet $59, di Melbourne saya beli cuman $39. Jadi deh saya orang Australia!

Eh, tapi waktu saya ke Sydney kemarin, saya pergi ke Paddy's Market (ini juga tempat belanja oleh-oleh paling top sak Sydney), saya ketemu topi serupa:



Ini merknya sama-sama Barmah, tapi harganya cuma $29! Terpaksa saya beli lagi satu, biar saya dobel jadi orang Australia!

Jadi begitulah saudara-saudara! Moral of the story: kalo mau beli topi Australi, belilah di Sydney, khususnya di Paddy's Market! Hehehe...

Jumat, 21 Maret 2014

Yang Saya Gak Ngerti: Tiba-tiba Profesor Saya Dipecat!

Ada kejadian aneh tapi nyata: profesor pembimbing saya tiba-tiba dipecat!

Begini ceritanya: awal februari kemarin si prof ngemail saya dan para anak didiknya bahwa ada kemungkinan para professor di CBS (Curtin Business School) akan dipensiun dini. Alasannya: adanya kekurangan dana dari pemerintah, adanya fakultas baru yang dibentuk, yaitu Medical School di Curtin yang baru mau dibuka, plus lha ini yang saya gak ngerti: paper yang terbit di School of Economics and Finance tempat saya bernaung (halah kayak hujan,bernaung), selama ini banyak yang terbitnya di jurnal perpajakan (kayak jurnal saya itu tuh). Nah, konon maunya CBS ya namanya school of economics mbok yao nerbitin yang bukan applied finance gitu, mbok yang masalah ekonometri dsb gitu lho yang banyak rumusnya!

Alasan pertama dan kedua sih kayaknya ok (walaupun sebenarnya gak oke juga, masak ada fakultas baru buka terus fakultas yang lama terus disunat, kok kayak perusahaan swasta aja), tapi alasan yang ketiga ini yang rada gak masuk akal! Lha gimana masuk akal coba: jurnal yang ditulis para PhD students di sini kan sesuai dengan keahliannya (misalnya pajak), dan juga dibimbing oleh prof yang sesuai juga jurusannya (misalnya prof saya jagoan pajak), lha terus masak ujug-ujug disuruh nulis di jurnal ekonometri, ya terang aja gak bisa, kan beda binatangnya! (Anda ngerti kan maksudnya? Jangan-jangan bingung!).

Lagian, selama ini jurnalnya juga jurnal bukan ecek-ecek, melainkan jurnal kelas A (banyak, termasuk punya saya dua biji, ehm!), dan sebagian sesial-sialnya ya kelas B! Lha kok mendadak dinilai tidak sesuai? Lha selama ini ngapain aja, kita datang kesitu kan karena si prof ada di situ? Lagian pajak kan termasuk finance juga, minimal public finance lah!

Ya begitulah, si prof udah ngomel-ngomel aja gak jelas.

Eh, ternyata benar, seminggu sebelum Februari berakhir, keluar vonis bahwa memang prof saya diberhentikan. Ya bener, diberhentikan begitu saja terhitung akhir Februari. Cuman dikasih waktu seminggu coba. Sebenarnya prof saya ditawari gak usah berhenti tapi jam ngajarnya ditambah, dan sekarang gak ada asisten lagi. Jadi maksudnya dia tambah ngajar, terus tambah bikin soal dan koreksi (kan gak ada asisten), terus menilai paper. Lha kapan nulis jurnalnya? Kan prof tugasnya nulis bukan ngajar? Tentu saja si prof menolak, tak usah ya.. Akhirnya dia mendadak pension. Ketika saya tanya waktu perpisahan: Prof, terus njenengan ngapain sesudah ini? Dia bilang ya di rumah aja, paling nganter anak sekolah!

Nah lho, bayangin, dia yang biasanya sibuk tiap hari ke kantor, terus ketemu murid bimbingan, terus ngecek disertasi kita, tau-tau besoknya nganggur coba, gimana rasanya?

Terus, yang lebih penting lagi, nasib saya gimana? Yang pasti secara ekonomi saya dirugian karena saya juga dipecat sebagai research assistant yang sudah saya jalani lebih dari setahun ini, padahal gajinya ok punya! Secara akademis, lebih dirugikan lagi, kan saya harus ganti dosen pembimbing, lha terus kalo prof yang baru banyak maunya kan repot, padahal saya udah ok banget sama prof lama saya dan juga udah beberapa bab yang sudah saya setor ke dia.

Gawat nih!