Anda masih ingat kisah pisang seharga $242 karena tidak di-declare waktu masuk Australia?
Nah, ceritanya kemarin dulu saya pulang dari Indonesia sehabis riset (mengenai riset saya tulis kapan-kapan aja ya, kayaknya terlalu teknis). Mengingat bahwa imigrasi sini ketat perihal barang bawaan, maka saya declare semua barang yang "mencurigakan" daripada terkena sanksi gak masuk akal! Maka waktu ada pertanyaan 'apa Anda membawa makanan?' Saya jawab 'ya' karena saya membawa empat toples makanan lebaran (rada telat) titipan istri. Kemudian saya jawab juga 'ya' untuk pertanyaan apa saya membawa obat-obatan, karena saya memang membawa minyak kayu putih cap L***, obat gosok Vi**s, dan obat gosok anti pegel Count******n.
Sesudah paspor diperiksa dan oke, maka seperti biasa langsung ikut antri panjang berbentuk ular berkelok-kelok. Mana bagasi saya gede banget, sebuah kopor ukuran 28 seberat 35kg dan anaknya ukuran 20 yang isinya kertas riset saya (sumpah berat banget!). Saya perkirakan butuh waktu lebih dari satu jam untuk mengklirkan barang ini, soalnya semua tas harus masuk trowongan dan koper pada dibuka kalo ada penumpang yang men-declare sesuatu.
Waktu lagi antre paling belakang, ada petugas ngeliat kartu kedatangan saya yang berisi daftar declare tersebut. Dia melihat jawaban 'ya' untuk makanan dan nanya apa makanan itu. Saya mau jawab 'kue lebaran' tapi saya gak ngerti apa bahasa inggrisnya kue lebaran, maka saya jawab 'cookies'. Dia nanya lagi: cuma itu doang? Ya iyalah mbak, saya jawab, masak bohong. Terus dia nanya lagi 'obat apaan yang kamu bawa?'. Saya jawab (wah saya gak ngerti bahasa inggrisnya minyak kayu putih sama obat gosok!): itu obat-obtan pribadi, beli di apotek, bukan obat resep!
Terus dia nyuruh saya keluar dari antrean yang panjang itu, dan menunjuk satu pintu terus bilang 'kamu ikutin pintu itu!'. Waduh, apaan nih, apa saya mau didenda karena bawa balsem? Ternyata saudara-saudara, begitu saya masukin pintu itu, ternyata saya udah keluar dari bandara! Artinya, barang saya tidak diperiksa sama sekali, jangankan dibuka, masuk terowongan scan aja gak! Lumayan, yang tadinya antre saya perkirakan lebih dari satu jam, ternyata gak saya lewatin, dan cuman makan waktu kurang dari dua menit untuk keluar!
Berita baiknya: saya cepet banget keluarnya, sambil diikutin beberapa mata penumpang lain yang antre dengan siriknya!
Berita buruknya: keluarga yang njemput saya belum dateng, karena saya kecepetan!
Pikiran nakal: seandainya waktu itu saya bawa narkoba, apa gak slamet tuh, nenteng narkoba ke Australia?
Terus terang saya adalah orang yang beruntung. Tanpa modal, saya mujur bisa menyelesaikan S2 di Amrik (kisahnya bisa dilihat di blog: http://orangjawasekolahdiamerika.blogspot.com). Dan sekarang, tanpa modal lagi, saya sedang mencoba mengikuti pendidikan S3 di Australia. Blog ini adalah buku harian saya menjelang dan selama mengikuti pendidikan tersebut...
Minggu, 30 Oktober 2011
Minggu, 21 Agustus 2011
Jadi Sopi Taksi
Temen saya Luis yang orang Filipina itu, rencananya mau pulang riset ke negaranya hari Minggu kemarin. Eh, ujug-ujug dia Minggu siang ngirim SMS ke saya begini:
Hi Budi! Are you doing anything tonight at 9pm? I was thinking maybe you can take me to the airport and I’ll give you $30 taxi fare instead of giving it to the taxi driver. Thanks!
Ha? Si Luis temen saya pingin mbayarin saya untuk nganter dia ke airport? Gak salah nih? Kalo di Indonesia, yang namanya temen pasti cuman akan bilang: tolong dong gua dianter ke bandara, mau pulang nih. Dan tentunya gratis, wong namanya temen, lagian saya udah kenal dia lama banget, sejak kita datang pertama, dan biasanya juga kita makan siang bareng seminggu sekali di lapangan deket perpus tiap Jumat sebelum saya Jumatan (dia gak Jumatan tentu saja). Lagipula bandara deket, palingan cuma 15 kilo dari rumah. Rumah si Luis juga palingan 3 kilo dari rumah saya.
Ya sudah, jam 9 malem saya meluncur ke rumah dia, terus ke bandara dan pulang lagi. Total waktu satu jam udah nyampai rumah lagi. Lalu apakah ‘honor’ $30 dolar dari dia saya terima? Lha ya tentu saja, kan kita hidup ala orang bule, gak boleh ngerepotin orang lain! (Kalo saya bayangin di Indonesia, waktu disodorin uang gitu terus kita ‘pura-pura’nolak sambil bilang gak usah, gak usah...). Berhubung di sini, ya ho’oh aja, lumayan, kerja satu jam dapet 30 dolar, pas buat bayar zakat fitrah kita bertiga (di sini zakat seorangnya 10 dolar).
Mudah-mudahan si Luis sering pulang pergi Australia-Filipina!
Hi Budi! Are you doing anything tonight at 9pm? I was thinking maybe you can take me to the airport and I’ll give you $30 taxi fare instead of giving it to the taxi driver. Thanks!
Ha? Si Luis temen saya pingin mbayarin saya untuk nganter dia ke airport? Gak salah nih? Kalo di Indonesia, yang namanya temen pasti cuman akan bilang: tolong dong gua dianter ke bandara, mau pulang nih. Dan tentunya gratis, wong namanya temen, lagian saya udah kenal dia lama banget, sejak kita datang pertama, dan biasanya juga kita makan siang bareng seminggu sekali di lapangan deket perpus tiap Jumat sebelum saya Jumatan (dia gak Jumatan tentu saja). Lagipula bandara deket, palingan cuma 15 kilo dari rumah. Rumah si Luis juga palingan 3 kilo dari rumah saya.
Ya sudah, jam 9 malem saya meluncur ke rumah dia, terus ke bandara dan pulang lagi. Total waktu satu jam udah nyampai rumah lagi. Lalu apakah ‘honor’ $30 dolar dari dia saya terima? Lha ya tentu saja, kan kita hidup ala orang bule, gak boleh ngerepotin orang lain! (Kalo saya bayangin di Indonesia, waktu disodorin uang gitu terus kita ‘pura-pura’nolak sambil bilang gak usah, gak usah...). Berhubung di sini, ya ho’oh aja, lumayan, kerja satu jam dapet 30 dolar, pas buat bayar zakat fitrah kita bertiga (di sini zakat seorangnya 10 dolar).
Mudah-mudahan si Luis sering pulang pergi Australia-Filipina!
Selasa, 16 Agustus 2011
Ternyata Masih Ada Yang Gratis
Setelah mandapati fakta bahwa sekolah gratis itu bukan gratis 100% (lihat entri sebelumnya), ternyata di sini masih ada yang gratis, yakni dokter gigi!
Rupanya di tiap sekolah, ada program pemeriksaan gigi gratis. Nah, sesuai dengan appointment yang dibikinkan oleh pihak sekolah, Aby mendapatkan giliran untuk diperiksa minggu lalu. Berangkatlah kami ke klinik gigi yang kayak aula besar dengan puluhan kursi gigi. Nyampai di sana, ternyata memang banyak anak sekolah yang lagi diperiksa. Herannya, anak-anak sini, baik yang bule maupun bukan, pada riang-riang aja menuju ke ruang praktek gigi tersebut, tidak ada yang nangis ataupun mengkeret. Bandingkan dengan kita di Indonesia, walaupun udah bangkotan tetap aja ngeri ke dokter gigi. Mungkin karena di Australia sini dari kecil udah dibiasain ke dokter gigi, jadi gak ada sedikitpun kengerian nampak di muka mereka (ya ampun gaya bahasanya!). Bahkan hampir semua anak masuk ke ruang perawatan tanpa didampingi orangtua sama sekali, mereka nunggu di ruang tunggu!
Berhubung Aby baru pertama kali ke dokter gigi situ, ya terpaksa emaknya yang nemenin. Setelah kira-kira setengah jam, mereka keluar dengan hasil yang rada gaswat: rupanya banyak gigi Aby yang pada bolong dan gak bener. Dia disuruh gosok gigi dengan benar, ada gigi yang mesti dicabutlah, gak boleh makan ini itu dan seterusnya.
Terpaksa Aby dibuatkan appointment baru untuk pertemuan berikutnya. Bukan hanya satu pertemuan, tapi sekaligus empat pertemuan di muka, dengan selang antara satu sampai dua minggu! Waduh…
Berita baiknya adalah: semua pertemuan dengan dokter gigi itu tidak satu dollar pun dipungut biaya. Bahkan ada temen sekolah Aby yang dari Indonesia juga, karena giginya berantakan, sampai harus ketemu drg sebanyak sepuluh kali! Gak tau nanti apakah setelah empat kali ketemu, si Aby masih perlu ketemu lagi. Kenapa drg gratis ini baik, karena kalo membayar sendiri dokter gigi, mahalnya nauzubilahimindalik. Ada temen bule saya, Douglas namanya, pernah cabut gigi di sini, dua gigi ongkosnya lebih dari 500 dolar! Bayangin, kalo bisa ketemu doker gigi sepuluh kali tanpa bayar, minimal hemat 10 kali 100 dolar sama dengan seribu dollar! Nah, lumayan kan…
Beritu buruknya adalah: apa gunanya periksa gigi gratis, mendingan gak usah periksa tapi gigi sehat walafiat, ya gak? Soalnya walaupun gratis, tetep aja diperiksa gigi itu sakit buanget kan?
Rupanya di tiap sekolah, ada program pemeriksaan gigi gratis. Nah, sesuai dengan appointment yang dibikinkan oleh pihak sekolah, Aby mendapatkan giliran untuk diperiksa minggu lalu. Berangkatlah kami ke klinik gigi yang kayak aula besar dengan puluhan kursi gigi. Nyampai di sana, ternyata memang banyak anak sekolah yang lagi diperiksa. Herannya, anak-anak sini, baik yang bule maupun bukan, pada riang-riang aja menuju ke ruang praktek gigi tersebut, tidak ada yang nangis ataupun mengkeret. Bandingkan dengan kita di Indonesia, walaupun udah bangkotan tetap aja ngeri ke dokter gigi. Mungkin karena di Australia sini dari kecil udah dibiasain ke dokter gigi, jadi gak ada sedikitpun kengerian nampak di muka mereka (ya ampun gaya bahasanya!). Bahkan hampir semua anak masuk ke ruang perawatan tanpa didampingi orangtua sama sekali, mereka nunggu di ruang tunggu!
Berhubung Aby baru pertama kali ke dokter gigi situ, ya terpaksa emaknya yang nemenin. Setelah kira-kira setengah jam, mereka keluar dengan hasil yang rada gaswat: rupanya banyak gigi Aby yang pada bolong dan gak bener. Dia disuruh gosok gigi dengan benar, ada gigi yang mesti dicabutlah, gak boleh makan ini itu dan seterusnya.
Terpaksa Aby dibuatkan appointment baru untuk pertemuan berikutnya. Bukan hanya satu pertemuan, tapi sekaligus empat pertemuan di muka, dengan selang antara satu sampai dua minggu! Waduh…
Berita baiknya adalah: semua pertemuan dengan dokter gigi itu tidak satu dollar pun dipungut biaya. Bahkan ada temen sekolah Aby yang dari Indonesia juga, karena giginya berantakan, sampai harus ketemu drg sebanyak sepuluh kali! Gak tau nanti apakah setelah empat kali ketemu, si Aby masih perlu ketemu lagi. Kenapa drg gratis ini baik, karena kalo membayar sendiri dokter gigi, mahalnya nauzubilahimindalik. Ada temen bule saya, Douglas namanya, pernah cabut gigi di sini, dua gigi ongkosnya lebih dari 500 dolar! Bayangin, kalo bisa ketemu doker gigi sepuluh kali tanpa bayar, minimal hemat 10 kali 100 dolar sama dengan seribu dollar! Nah, lumayan kan…
Beritu buruknya adalah: apa gunanya periksa gigi gratis, mendingan gak usah periksa tapi gigi sehat walafiat, ya gak? Soalnya walaupun gratis, tetep aja diperiksa gigi itu sakit buanget kan?
Selasa, 09 Agustus 2011
Cas-cis-cus
Dua hari lalu saya ke kantor Garuda Indonesia buat beli tiket anak istri pulang ke Indonesia dalam rangka liburan sekolah (saya gak ikut pulang). Nyampai di Garuda, lalu menunggu dipanggil mbak-mbak penjaga konter. Biasanya yang jaga konter di situ adalah dua orang cewek bule, tapi kali ini satu bule dan satu wanita yang berkulit putih rambut lurus tapi bukan bule, yang pasti turunan Asia. Saya tebak-tebakan sama istri, hayo itu orang Indonesia bukan? Soalnya kalo dilayanin sama orang Indonesia, rasanya nyantai gitu, ngobrol pakai bahasa sendiri dan bisa becanda-canda.
Waktu dipanggil, nama si mbaknya ternyata ‘Regina’ sebuah nama generik yang tidak bisa mengungkapkan apa dia Indo apa bukan (lain soal kalau namanya ‘Endang’ atau ‘Rahayu’ yang dengan tanpa ragu-ragu akan kita sapa ‘Mbak, saya mau beli tiket’ gitu). Saya tunggu sapaannya, eh ternyata dia pakai bahasa Inggris, dalam hati ‘untung tadi tidak sok akrab pakai bahasa Indo!’. Singkat cerita semua percakapan pakai bahasa Inggris, transaksi selesai, dan dia bilang besok tiket bisa diprint lewat email.
Besoknya , bener email tiket udah bisa diprint dengan selamat. Eh, begitu saya lihat pengirim ternyata nama pengirimnya adalah ‘Regina Hartono’. Waduh, ternyata si cewek kemarin orang Indonesia to, nyesel deh udah cas-cis-cus pakai bahasa Inggris!
Waktu dipanggil, nama si mbaknya ternyata ‘Regina’ sebuah nama generik yang tidak bisa mengungkapkan apa dia Indo apa bukan (lain soal kalau namanya ‘Endang’ atau ‘Rahayu’ yang dengan tanpa ragu-ragu akan kita sapa ‘Mbak, saya mau beli tiket’ gitu). Saya tunggu sapaannya, eh ternyata dia pakai bahasa Inggris, dalam hati ‘untung tadi tidak sok akrab pakai bahasa Indo!’. Singkat cerita semua percakapan pakai bahasa Inggris, transaksi selesai, dan dia bilang besok tiket bisa diprint lewat email.
Besoknya , bener email tiket udah bisa diprint dengan selamat. Eh, begitu saya lihat pengirim ternyata nama pengirimnya adalah ‘Regina Hartono’. Waduh, ternyata si cewek kemarin orang Indonesia to, nyesel deh udah cas-cis-cus pakai bahasa Inggris!
Kamis, 28 Juli 2011
Cuci Karpet
Tadi pagi karpet saya dicuci sama tukang cuci karpet. Biasa saja sih, cuman ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik:
1. Di sini waktu ngontrak rumah diharuskan menandatangani perjanjian bahwa karpet harus dicuci sama tukang cuci khusus karpet minimal sekali setahun. Itulah sebabnya saya manggil tukang cuci karpet walaupun karpet di apartemen saya masih kinclong
2. Ternyata ongkosnya lumayan mahal yaitu $110, padahal kerjanya cuman 45 menit! Enak juga ya jadi tukang cuci karpet, bayangin kalau sehari dapet dua order aja!
3. Si pencuci karpet datang tepat waktu banget! Janji jam 8 pagi datang, jam 07.55 dia sudah nongol di parkiran. Hebat!
4. Semua dikerjain sendiri sama tukang itu, tanpa asisten. Dari nyemprot karpet, narik gulungan penyedot dari parkiran (apartemen saya di lantai dua), bersihin karpet sampai mengeringkannya. Bayangin di Indonesia, cuman bersihin satu AC aja perlu tenaga dua orang!
5. Tukang cucinya punya mobil van sendiri. Tapi memang semua tukang di sini punya mobil. Hebat kan, dari nukang bisa beli mobil. Puluhan tahun tinggal di Jakarta, saya cuman nemu si Gito tukang sayur yang bisa beli mobil, yang lainnya biasanya naik motor (Honda bebek tentunya!)
6. Tadinya saya takut dikemplang harganya, karena waktu nelpon bikin janji, saya lupa nanya tarifnya berapa. Ternyata tarifnya normal aja tuh, relatif sama dengan tarif di koran-koran!
7. Sekian!
1. Di sini waktu ngontrak rumah diharuskan menandatangani perjanjian bahwa karpet harus dicuci sama tukang cuci khusus karpet minimal sekali setahun. Itulah sebabnya saya manggil tukang cuci karpet walaupun karpet di apartemen saya masih kinclong
2. Ternyata ongkosnya lumayan mahal yaitu $110, padahal kerjanya cuman 45 menit! Enak juga ya jadi tukang cuci karpet, bayangin kalau sehari dapet dua order aja!
3. Si pencuci karpet datang tepat waktu banget! Janji jam 8 pagi datang, jam 07.55 dia sudah nongol di parkiran. Hebat!
4. Semua dikerjain sendiri sama tukang itu, tanpa asisten. Dari nyemprot karpet, narik gulungan penyedot dari parkiran (apartemen saya di lantai dua), bersihin karpet sampai mengeringkannya. Bayangin di Indonesia, cuman bersihin satu AC aja perlu tenaga dua orang!
5. Tukang cucinya punya mobil van sendiri. Tapi memang semua tukang di sini punya mobil. Hebat kan, dari nukang bisa beli mobil. Puluhan tahun tinggal di Jakarta, saya cuman nemu si Gito tukang sayur yang bisa beli mobil, yang lainnya biasanya naik motor (Honda bebek tentunya!)
6. Tadinya saya takut dikemplang harganya, karena waktu nelpon bikin janji, saya lupa nanya tarifnya berapa. Ternyata tarifnya normal aja tuh, relatif sama dengan tarif di koran-koran!
7. Sekian!
Rabu, 27 Juli 2011
Sekolah Gratis Yang Ternyata Tidak
Waktu saya ndaftar sekolah buat Aby, dibilangin katanya sekolahnya gratis. Eh, ternyata makin ke sini makin banyak biaya yang harus saya bayar.
Misalnya ternyata waktu daftar, ada sumbangan sukarela $40 (wong sukarela kok disebutkan nominalnya!). Terus buat ekskul social dance (nari ala bule macam hip-hop, tango dsb, bukan tari tradisional macam tari pendet atau tari piring!) $30. Ada lagi buat field trip ke pertanian Aborigin $15. Buat jump, throw, run (olahraga) $30 lagi, buat foto bersama (hasilnya cuman 2 lembar foto ukuran 10R) $30 lagi, sumbangan ini itu (mothers day, bazaar, dsb. ) kira-kira $5 tiap kegiatan.
Kalo dijumblah-jembleh lumayan juga ternyata. Jadinya malah mirip Indonesia, sekolah gratis tapi banyak juga biaya buat ini itu. Untunglah di sini pertanggungjawabannya jelas, mirip kayak laporan kotak amal mesjid!
Misalnya ternyata waktu daftar, ada sumbangan sukarela $40 (wong sukarela kok disebutkan nominalnya!). Terus buat ekskul social dance (nari ala bule macam hip-hop, tango dsb, bukan tari tradisional macam tari pendet atau tari piring!) $30. Ada lagi buat field trip ke pertanian Aborigin $15. Buat jump, throw, run (olahraga) $30 lagi, buat foto bersama (hasilnya cuman 2 lembar foto ukuran 10R) $30 lagi, sumbangan ini itu (mothers day, bazaar, dsb. ) kira-kira $5 tiap kegiatan.
Kalo dijumblah-jembleh lumayan juga ternyata. Jadinya malah mirip Indonesia, sekolah gratis tapi banyak juga biaya buat ini itu. Untunglah di sini pertanggungjawabannya jelas, mirip kayak laporan kotak amal mesjid!
Minggu, 24 Juli 2011
Orang Australia Ternyata Hebat-Hebat
Ternyata orang Australia hebat-hebat juga ya, bisa juara Tour de France, yakni Cadel Evans yang ternyata tidak cadel, menjadi orang Australia pertama yang juara di ajang balap sepeda paling top markotop di dunia itu. Ini mah gak heran, karena memang orang sini sangat gemar naik sepeda (dan catat bahwa sepedanya bukan sepeda gunung kayak di Indonesia, melainkan sepeda balap). Kalo hari libur banyak banget yang nunggang itu sepeda balap kemana-mana, tidak ada satupun yang sepeda gunung. Bahkan calon PM yang kalah, yaitu Tony Abbott yang rada-rada mirip sama Daniel Craig si James Bond 007, sangat fanatik dengan sepada (balapnya), hingga waktu kampanye kemarin kemana-mana dibawanya si sepeda itu. Sekali lagi tidak heran akhirnya muncul juara Tour de France.
Lha yang rada heran adalah lha kok ya ada dua orang Australia yang jadi pembalap Formula Satu. Formula Satu, barangkali Anda belum pernah pikirkan, adalah olahraga sangat bergengsi di dunia yang melibatkan ratusan juta dolar, dan sangat populer, tapi dengan jumlah atlet di dunia paling sedikit, yaitu cuma 24 orang, berasal dari 12 tim. Bayangin, di dunia ini cuman ada 24 orang atletnya! Bandingin dengan olahraga bergengsi lain, misalnya golf di dunia ini atletnya ada ribuan. Atau tenis, di mana pemain dunianya berjumlah lebih dari 1000 pria dan wanita, apalagi sepakbola yang juga populer, atletnya jumlahnya ombyokan. Lha ini, atlet F-1 cuman 24 kok ya ada dua yang Australianya, yaitu Mark Webber (Red Bull, juara kedua tahun lalu), dan Riccardiao (gak tau nama lengkapnya, Hispania Racing Team, pendatang baru). Padahal letak Australia jauh dari mana-mana, kok bisa ya?
Yang rada heran lagi, banyak banget artis Hollywood yang asalnya dari Australi, misalnya Nicole Kidman, Mel Gibson, Russel Crowe, Hugh Jackman, John Travolta, Tom Cruise, Julia Roberts (eh, maaf yang dua terakhir asli Amrik ding!). Lha kok bisa orang dari benua yang jauh ini kok malang melintang di Hollywood sana, terus latihannya di mana kok bisa ngetop? Bayangin dari sekian banyak negara Eropa (belasan), siapa sih yang ngetop di Hollywood? Palingan Sean Connery atau bintang-bintang Harry Potter! Atau si Stachan jagoan botak itu?
Kembali ke olahraga. Padahal di sini olahraga yang ngetop adalah Australian football sama rugby, kok ya ada bintang NBA si Andre Bogut (Milwaukee Bucks) atau petenis Leyton Hewitt (udah mau pensiun), Samantha Stosur, atau Bernard Tomic. Tambah lagi iklim kompetisi tidaklah secanggih di Amrik yang kejuaraan tingkat High School dan universitasnya (NCAA) sangat teratur rapi. Di sini biasa aja tuh...
Kok bisa ya?
Lha yang rada heran adalah lha kok ya ada dua orang Australia yang jadi pembalap Formula Satu. Formula Satu, barangkali Anda belum pernah pikirkan, adalah olahraga sangat bergengsi di dunia yang melibatkan ratusan juta dolar, dan sangat populer, tapi dengan jumlah atlet di dunia paling sedikit, yaitu cuma 24 orang, berasal dari 12 tim. Bayangin, di dunia ini cuman ada 24 orang atletnya! Bandingin dengan olahraga bergengsi lain, misalnya golf di dunia ini atletnya ada ribuan. Atau tenis, di mana pemain dunianya berjumlah lebih dari 1000 pria dan wanita, apalagi sepakbola yang juga populer, atletnya jumlahnya ombyokan. Lha ini, atlet F-1 cuman 24 kok ya ada dua yang Australianya, yaitu Mark Webber (Red Bull, juara kedua tahun lalu), dan Riccardiao (gak tau nama lengkapnya, Hispania Racing Team, pendatang baru). Padahal letak Australia jauh dari mana-mana, kok bisa ya?
Yang rada heran lagi, banyak banget artis Hollywood yang asalnya dari Australi, misalnya Nicole Kidman, Mel Gibson, Russel Crowe, Hugh Jackman, John Travolta, Tom Cruise, Julia Roberts (eh, maaf yang dua terakhir asli Amrik ding!). Lha kok bisa orang dari benua yang jauh ini kok malang melintang di Hollywood sana, terus latihannya di mana kok bisa ngetop? Bayangin dari sekian banyak negara Eropa (belasan), siapa sih yang ngetop di Hollywood? Palingan Sean Connery atau bintang-bintang Harry Potter! Atau si Stachan jagoan botak itu?
Kembali ke olahraga. Padahal di sini olahraga yang ngetop adalah Australian football sama rugby, kok ya ada bintang NBA si Andre Bogut (Milwaukee Bucks) atau petenis Leyton Hewitt (udah mau pensiun), Samantha Stosur, atau Bernard Tomic. Tambah lagi iklim kompetisi tidaklah secanggih di Amrik yang kejuaraan tingkat High School dan universitasnya (NCAA) sangat teratur rapi. Di sini biasa aja tuh...
Kok bisa ya?
Langganan:
Postingan (Atom)